...
...
...
Sudah. Segitu saja.
...
...
Baiklah, ini masih terlalu pagi untuk mengoceh, tapi sudah terlalu siang juga untuk tertidur lagi dan kembali bermimpi. Detik ini di layar laptopku terpampang pukul 05.47 WITA. Seharusnya saat ini aku sedang duduk belajar untuk diskusi nanti di kampus, tapi...yah begitulah. Refresh dulu sebelum bertarung. #cieee
Aku Tidak Mau Ketinggalan Euforia Valentine.
*the true title, anyway*
Kamu tanya aku jomlo? Ya, aku jomlo. Tepatnya aku single yang dulunya suka pake singlet.
*abaikan!*
Dulu waktu balita aku suka pakai singlet. Sekarang ganti jadi tanktop.
*abaikan lagi!*
Kenapa masih jomlo? Alasan terbaik yang bisa kukatakan untuk menjawab pertanyaan itu adalah 'belum ada yang cocok'. Klise memang. Tapi itu jawaban yang jujur. Tidak munafik sama sekali. Yang munafik adalah kenyataan bahwa aku lebih suka pakai tanktop sekarang daripada pakai singlet. Padahal sama-sama pakaian tanpa kerah tanpa lengan. Sama saja tampilannya!
*boleh diabaikan lagi kok*
"Btw, buat elo, cowok-cowok yang ngerasa kepedean dan mengira aku jomlo karena menunggu antrean dipillih oleh elo nanti ... please see yourself on the mirror. Ask yourself gitu, aku yang butuh kamu atau kamu yang butuh aku. Anyway, aku sih gak butuh kamu ya."
*eh tiba-tiba Si Pemarah muncul*
Well, demi menjaga kelangsungan hidup blog ini dan tentunya keahlian jemariku menari diatas tuts keyboad laptop, hari ini aku akan memposting sebuah
Well(pangkat dua), aku akan bercerita tentang Cinta Pertama, Cinta Terdalam dan Pacar Pertamaku.
*secara ringkas*
*atau mungkin juga tidak ringkas-ringkat amat*
Judul Super Sebenarnya :
Kulepas Dendamku untuk Melepasmu Sepenuhnya.
#EvilLaugh
Here We Go!
Aku punya dendam masing-masing untuk mereka. Bukan dendam sih, tetapi semacam perasaan ingin membalaskan sesuatu dan membuat mereka merasakan rasa sakit yang sama besar dengan yang kurasakan. Aku ingin mereka merasakan betapa sakitnya hatiku ini dibuatnya oleh mereka. Well, itu dulu. Setelah Avatar Aang punya film versi manusianya, aku mulai berubah dan berfikir ulang tentang kemarahan, kebencian dan dendam yang kupunya.
Akan kututup buku itu dan membuka lembaran baru.
Aku selalu berkata seperti itu. Niatnya begitu. Tapi bagaimana bisa seperti itu jika aku selalu saja memupuk rasa marah yang kupunya dalam hati. Guys, kalau kalian mau move on, jangan cuma rasa cinta yang dikubur, tapi rasa benci juga. Semua rasa-rasa yang ada untuk mereka, kamu tinggalkan di masa lalu dan langkahkan kakimu ke depan tanpa memikirkan mereka sama sekali.
Itu kuncinya.
Bagaimana bisa kamu lupa dan kembali mencinta jika hatimu dipenuhi kebencian dan rasa marah untuk orang lain?
Cinta dan benci memang beda tipis. Sama dengan jujur dan munafik, lugu dan bego, cerdik dan licik. Beti-beti gitu deh (Tahu apa itu beti? Beda tipis. Sebelas-dua belas.).
Sialnya, rasa benci seringkali lebih unggul daripada rasa-rasa yang lain. Coba tanyakan pada dirimu, setelah sekian lama pacaran atau setahun menggebet dan menikmati indahnya masa-masa itu ... saat putus dan sakit hati, rasa apa saja yang memenuhi hatimu? Masa-masa apa saja yang selalu kamu ingat dalam kenanganmu bersamanya?
Aku secara pribadi sih, saat masih memupuk benci, yang kuingat hanya betapa kejamnya mereka, betapa jahatnya mereka dan betapa busuknya mereka. AKu lupa bagaimana hubungan baik kami sebelumnya, bagaimana akrabnya kami di zaman neolitikum atau betapa kompaknya kami ketika bermain
Kata Ajahn Brahm, "Dari 1000 deret bata penyusun tembok, kamu hanya terpaku pada 2 bata jelek yang terlihat dan melupakan 998 bata bagus yang ada."
Iyo, sebelum baca bukunya, aku belum setercerahkan ini.
*sudah lumayan cerah namun belum sepenuhnya cerah*
Coba deh dengan jujur tanya pada dirimu, masa iya kamu bertahan suka/cinta/ngegebet seseorang jika yang kamu rasa hanya sakit, hanya sedih atau benci? Berarti kan selama terbutakan oleh cinta, kamu sanggup melihat 998 bata bagus yang ada disana.
Selama kamu masih terpaku pada cinta ataupun benci terhadap dirinya, dirimu tidak akan sanggup beranjak dari ingatanmu tentangnya.
Terlepas dari betapa sakit ataupun senangnya perasaan itu.
Sudah mendekati angka dua puluh lima. Sudah waktunya menjadi lebih bijaksana dan lebih dewasa lagi. Jadi kuputuskan, untuk membebaskan mereka. Membiarkan mereka bebas tanpa ada niat egois untuk menghukumnya.
Cinta Pertama tak akan pernah mati.
Akan setia dikenang sepenuh hati.
Dan selalu teringat sampai akhir waktu nanti.
Hahaha. Cinta pertamaku berkembang sejak aku SD kelas 6 sampai akhirnya tujuh tahun kemudian, rasa lelah mulai melanda dan aku menyerah. Kulepas rasa itu tanpa ada benci ataupun cinta. Dan kemudian dua tahun dari penyerahan itu, aku berusaha memupuk rasa lagi namun sia-sia. Benihnya tak ada, namun kelakuan Si Cinta Pertama masih sama dan akhirnya dibandingkan rasa cinta yang dulu pernah ada, hatiku hanya dipenuhi kemarahan dan kebencian untuknya. Bahkan aku sama sekali tidaak ingin berbicara ataupun bertatap muka dengannya.
*bohong! Sebagian kenangan indah masih menari-nari dan berharap terulang lagi. wkkk*
*kenangan ya bukan oknumnya*
Cinta Pertamaku tak pernah memilihku.
Dia selalu memilih yang lain disaat aku rasa-rasanya memiliki kebersamaan yang indah dengannya, disaat aku sedang memupuk harapan indah untuk bersamanya. Beberapa saat kita bersama, saling berkabar dan bercanda riang. Seakan dia sayang dan perhatian. Seakan dia punya rasa yang sama dan cita yang sama denganku. Seakan-akan seperti itu. Dan selalu saja seakan-akan begitu. Ada sekitar 4 sampai 5 kali aku diberi harapan palsu. Lagak-lagaknya saja. Tapi kosong melompong.
Aku selalu merasa dikerjain jadinya.
Dia tetap seperti itu dan tidak pernah berubah.
Kamu tanya bagaimana perasaanku? Sakit, marah dan benci. Dia merusak harapan cinta pertama supaya menjadi pacar pertama dan cinta terakhir. Hahaha. Kalau diingat-ingat sih aku masih bisa marah ya. Egoku masih tinggi dan harga diriku melarangku untuk melupakan kelakuannya yang bikin gerah.
Hanya saja aku diingatkan kembali juga oleh harddisk di otakku yang baik hati ini tentang masa dimana kami pernah akrab sewaktu masih unyu-unyu dulu, betapa baiknya dia menepuk puncak kepalaku, dan bagaimana sabarnya dia mendengarkan ocehanku yang notabene dulu susah menyampaikan sesuatu dan memiliki cara bicara yang susah dimengerti.
Nah, sekarang ada seberkah senyum dibibirku.
Saat ingat kejamnya dia, aku ingin memukul. Saat ingat baiknya dia, aku tersenyum. Manusia memang lucu. Dia yang mengingat eh dia yang merasa. Bahkan disaat obyeknya tak ada di depan mata.
Jika kalian bertanya apa aku masih menginginkan dan mengharapkannya, maka aku akan bertanya balik pada kalian, dia siapa yang kalian tanyakan? Dia yang sekarang atau dia yang dulu? Dia ata hanya kenangannya saja? Hahaha. Kenangan itu mungkin saja manis. Tapi aku tak ingin mengulangnya lagi. Bosan.
Memupuk cinta adalah kebiasaan buruk para pecinta.
Cinta tak perlu dipupuk.
Mereka bukan tanaman.
Cinta itu perlunya dipelihara dan dijaga.
Agar jangan sampai mengecil dan berubah jadi benci.
Agar jangan sampai membesar dan berubah menjadi obsesi.
*setidaknya itu menurutku.*
Btw, aku senang menulisnya walaupun terkadang aku sendiri tidak begitu mengerti apa maksudnya. Mungkin nanti lama-kelamaan aku baru akan mengerti apa maksud dari kalimat yang kutulis itu.
Saat kamu mulai tertarik kepada seseorang, rasa itu sudah sungguh luar biasa bukan? Kamu mendadak jadi detektif, kamu juga berubah menjadi penguntit dan lama-lama kamu akan menjadi bodyguard yang protektif.
Aku seperti itu kepada Cinta Terdalam yang kupunya. Awalnya kutak mengerti apa yang sedang kurasakan dan segalanya berubah dan rasa rindu itupun ada. Sejak kau hadir di setiap malam di tidurku, aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku. Thank you, Roulete.
Benar.
Tepat setelah aku melepaskan rasa untuk Cinta Pertamaku. Aku akhirnya menyadari akan hadirnya seseorang yang selalu ada didekatku ini. Saat itu akupun menyadari ada sebuah rasa yang timbul karena kebersamaan tak disengaja yang membuat kami sering berbincang-bincang, bertukar pikiran dan bercerita dengan riang.
Saat itu sedang upacara bendera. Seorang perwakilan disdik sedang jadi pembina dan berbicara tentang sesuatu di podium sana. Kebetulan perwakilan hari itu adalah babe ane sendiri Gan. Lagi sesi pidato pembina upacara, Aku saat itu bertugas sebagai pembaca doa, dan dia sebagai ajudan pembina upacara.
"Pak jadikan saya mantu Bapak." katanya di sela-sela upacara.
Aku hanya tertawa melihatnya melakukan hal itu. AKu rasa ia hanya bercanda. Coba saja ayah orang lain di depan sana, mungkin juga dia akan meneriakkan hal yang sama. Bagaimanapun juga upacara selalu membosankan bukan? Kami perlu memecah rasa bosan dan kantuk dengan perbuatan lucu yang aneh-aneh. Itu mungkin yang sedang dilakukannya.
Suatu hari dia kembali datang ke rumahku untuk entahlah aku lupa apakah untuk memberikan atau malah mengembaliikan sesuatu. Dengan riang aku membuka pintu gerbang. Menyambutnya. Kerianganku nyaris raib saat melihatnya datang dengan seorang gadis yang digosipkan sedang dekat dengannya. AKu mempertahankan keriangan itu. Egoku melarangku untuk menunjukkan emosi yang berbeda. Walaupun hatiku berteriak di dalam sana. Senangku berubah jadi sedih dalam sedetik. Setelah urusan kami selesai dan dia pergi, aku kembali masuk ke dalam rumah dan menjawab pertanyaan ibuku.
"Siapa yang datang Nak?"
"Si Anu, Mak." jawabku ringkas.
"Kenapa?" tanya ibuku. Terkadang insting seorang ibu itu diluar nalar ya?
"Kenapa apanya?"
"Kok bengong?"
Aku menggeleng lemah. Aku rasanya sedang ingin diam saja dan melamun gitu.
"Ada apa Si ANu datang?"
"Oh itu ... begitu." aku terdiam. "Dia sama cewek datangnya."
Ibuku diam. Tak lagi-lagi iseng mengorek informasi. Ibu diam akupun diam. Kami sama-sama sibuk dengan urusan dan pikiran masing-masing.
Sebenarnya satu rumah tahu sepertinya aku menyukainya. Karena secara tidak sadar aku menulis namanya di sebuah pohon kaktus yang ada dekat gerbang. Sekarang kaktus itu sudah besar dan nama yang tertulispun ikut membesar. Habis itu, yang awalnya cabang itu ada di posisi tersembunyi, sekarang malah ada di posisi yang everyone can see it. Hahaha. Sial, aku ketahuan!
nb: saat menulis ini sih kaktus itu sudah sepenuhnya menjadi tanah. Sudah ditebang dan ganti jadi pohon lain yang lebih rindang dan rimbun. Good bye Memories. :p
Jujur saja, walaupun kupikir aku benci dia ... tapi Si Cinta Terdalam ini sering muncul di mimpiku. Tidak sering-sering amat sih, tapi yahhh, lumayan lah. Lebih sering mimpi dia lagi ada masalah gitu. Bangun-bangun kan aku jadi khawatirrr. #mukamelas
Makanya aku sebut namanya cinta terdalam, soalnya walaupun tidak berjumpa namun hati ini selalu ada untuk memperhatikan dan memedulikannya. #makinmelas #cintayangmenyiksa
Namunnn, yang jadi pertanyaan, bagaimana bisa aku jatuh cinta terus-terusan pada orang yang bahkan nyaris tidak pernah kutemui lagi sama sekali. Kucinta (iya benar ah masa)? Ingatan tentangnya atau bayangannya yang tertinggal di belakang? Ini sepertinya bukan cinta yang nyata. Ini hanyalah sisa cinta masa lalu. Yang tersisa hanya kenangan dan dengan kompos merek Harapan, aku memupuknya sendirian sampai besar. Ingat, aku memupuknya 'sendirian' sampai besar.
*sengaja di bold, underiline dan italic, supaya seluruh dunia tahu betapa sakitnya nulis dengan koneksi internet selambat amoeba. Maaf salah fokus.*
AKu tidak tahu apakah dia juga suka sama aku atau tidak.
*walaupun emak berkata dia suka tapi karena aku no respon dia jadi mundur perlahan yah insting emak-emak katanya, ya tapi tetep saja kan kalau yang dimaksud tidak bilang dengan mulutnya sendiri ya mana kita tahu isi hati orang. Huf.*
Apakah kalau dia sering berkata 'jadikan aku mantumu' lalu bisa disimpulkan dia suka? Tidak. Karena kenyataannya ia berkata seperti itu kepada banyak orang. hhaha. Aku bukanlah The Special One-nya dia. Dia melakukan banyak hal sweet bukan cuma kepadaku, seperti yang kuketahui, dia juga begitu ke orang lain. Lagipula, aku yakin benar dia sukanya ke siapa karena aku melihat tatapan mata yang berbeda saat ia menatap satu orang gadis itu.
Sebenarnya kurang tepat aku bilang mau balas dendam ke dia. Perasaan yang ingin kubalaskan ini berupa keinginan untuk membuatnya melirikku sebenarnya.
AKu ingin dia tahu, sadar dan serius memilihku.
*boleh muntah dulu kok. Aku juga pengen muntah. Hoek!*
Btw, itu dulu. Sebelum Aang dimanusiakan. Avatar Aang sudah ada versi manusianya sekarang. Semuanya berubah. Termasuk aku. Kenapa? Karena aku sudah bosan.
Apa yang kamu pikirkan akan terjadi saat kamu pacaran?
Apa yang kamu dan pacarmu lakukan saat pacaran?
Kenapa kalian pacaran?
Sering kutanya pada orang-orang apa yang mereka lakukan.
Mereka tidak menjawab pertanyaannku dengan benar.
AKu pernah menanyakannya pada Si Cinta Terdalam.
Namun iapun tak memberikanku jawaban yang memuaskan.
Setidaknya aku butuh jawaban yang membuatku tak ragu.
Ternyata aku harus menjawabnya sendiri.
Aku melepas status jomblo menahun eksaserbasi akutku ketika putaran awal klinik. Sekitar 2012 berarti. #cekikikan
"Pacaran yuk."
"Ayuk donk kita coba!"
Ternyata segampang itu mendapatkan pacar. Sepele.
"Udahan yuk main pacar-pacarannya."
Dan segampang itu juga putusnya. Sepele
#dusta #bershower
Kita anggap saja ini sejenis Pacaran Dua Minggu. Kurang lebihnya dibulatkan sajalah. Si Pacar Pertama ini adalah temannya Si Cinta Terdalam. Kelakuannya juga sebelas dua belas. Sama-sama suka menggoda cewek, memanggil sayang dan menebar jala-jala cinta kemana-mana. Mereka teman sebangku waktu masih sekolah dulu.
Dulu awal kuliah, sewaktu bau gosong kulit karena dijemur pas OSPEK belum sepenuhnya hilang, aku dan dia masih sering bertukar kabar. Dia satu-satunya kawan lelaki yang masih sering sengaja menghubungi untuk bertegur sapa (kali karena kesepian. Aku angkat telepon juga karena kesepian.) sampai akhhirnya aku jarang angkat telepon dan SMS-nya. (Kamu tahu, terkadang ada fase dimana manusia itu menjadi sangat egois dan semaunya sendiri. Kesepianku belum hilang, tapi aku mulai bosan.)
"Yah kok gak bilang-bilang. Kan kamu bisa minta bantuanku." Katanya waktu aku cerita soal kesulitanku di OSPEK kemarin.
Mau serius, mau basa-basi, tapi apa yang dia katakan membuatku terharu setengah mati. Saat itu memang masa-masanya merasa kesepian dan sendirian. Mungkin itu tidak masalah. Tapi kepedulian sekecil apapun rasanya membantu menguatkan hati (yang kesepian ini. hahaha).
Pernah suatu kali, aku bercerita dengan semangat bahwa aku nyaris berhasil mendapatkan gelar sesuatu. Rasanya seperti anak kecil yang bercerita dengan bangga dan minta dipuji oleh papanya. hahaha. AKu tidak mengerti kenapa aku bercerita selugas itu kepadanya.
Dari awal sampai akhirnya putus sebenarnya hubungan kami (setidaknya bagiku) baik-baik saja. Kami masih berkawan. AKu sangat respek dengannya. AKu masih sangat menghargai dan menghormatinya. Bahkan walaupun dia mengajakku pacaran tanpa sekalipun minta ketemuan atau membelikan aku makan (dasar perut karung!), aku tetap bisa memberikan penilaian setinggi gunung Himalaya untuknya.
Namun semua itu berubah sejak Raja Api Ozai bersekutu dengan Akatsuki lalu bersama-sama mereka menyerang Greenland. Menyusahkan. Naruto, Avatar dan Lufi harus digabung untuk melawan mereka. hahaa
Bagiku... catat, aku tulis huruf besar ya... BAGIKU (entahlah bagi yang lain), pengkhianatan terstruktur, terencana dan terbesar yang pernah aku terima adalah konspirasi yang SI Pacar Pertama ini lakukan. Ia bersekutu dengan teman baikku semasa sekolah dulu.
Ya Tuhan. Kalau memang dia sakit hati, kenapa tidak bilang? We kan can talk talk together to resolve the puzzle and yakinkan hatiku bahwa we match together forever. Oh Man!
Aku mulai ragu dia menghitungku sebagai bagian dari daftar pacarnya.
Padahal aku setengah girang setengah terharu karena akhirnya finally aku punya pacar juga sebelum seperempat abad.
"Kamu sayang aku?"
Dengan kikuk aku membalas message-nya. "Iya, sayang sebagai teman."
Sebelum dia bermain drama dengan temanku, aku sudah ancang-ancang untuk memikirkan ulang apa yang terjadi. Mungkin jika konspirasi itu tidak terjadi dan dia masih single aku akan memintanya duluan untuk melanjutkan cerita lama. Namun sayang, Greenland sudah berubah menjadi Blackland.
Good bye Guys!
*dengan aksen khas salah satu bule di Kuta*
Kalian tanya apa konspirasinya?
Mereka pura-pura pacaran dan bermain drama seakan tidak bisa saling berhubungan dan akulah yang menjadi distributor pesan dari Si Pacar Pertama dan Si (kupikir) Sahabat Lama dan begitu pula sebaliknya. Kalau mereka benar pacaran, aku akan baik-baik saja. Mungkin sedikit berbahagia dan banyak sedih karena patah hati. Tapi akan baik saja karena patah hati sudah menjadi makanan sehari-hari. Tapi terlebih daripada itu, memainkan drama yang aku tahu dusta dan dilakukan oleh dua orang yang aku percayai.... sakitnya tuh di jemari kam*vret!
Kok aku bisa tahu mereka cuma main-main?
Kok kalian kepo? Ya tahulah. Satu. Kalau buat drama berdua, please buat skenario bareng ya, sepakati jalan ceritanya bersama. Biar pihak satu dengan pihak lain tidak saling misscommunication. Dua. Cek timeline FB kedua belah pihak. Tiga. Instingku tak pernah salah. Tuhan kasi lihat bukti-bukti lain yang menyayat hati.
Drama mereka berakhir saat blacberry-ku rusak dan mereka tidak bisa main-main lagi.
*menghela nafas busuk bau naga*
See? Atau did you feel it? AKu masih membara penuh amarah saat menuliskan kembali apa yang terjadi dan apa yang kurasakan. Sama seperti Si Cinta Pertama, aku benar-benar malas jika harus menerima telepon ataupun message dari Si Pacar Pertama.
Melepasmu adalah cara termudah untuk melupakan seluruhnya.
Merelakamu adalah cara termudah untuk memaafkan semuanya.
Dan mengikhlaskanmu adalah cara termudah untuk maju memulai segalanya.
Merelakan, melepaskan da mengikhlaskan cinta serta benci yang ada....
Memulai apapun itu sedari awal,
Tanpa bayangmu,
Tanpa bayang dia,
Ataupun bayang-bayang mereka di sekitarku.
AKu lepaskan semuanya. Cintaku, dendamku dan semua rasa yang mengikuti. Bukan demi mereka tapi demi diriku, demi hidupku dan kelangsungan kisah cintaku. #uhuk
AKu butuh cerita yang baru karena tiga kisah teratas ini mulai sangat mengganggu dan membosankan.
Bagaimana bisa maju dengan tenang jika setiap kali muncul yang baru ehh dibandingkan dengan mereka bertiga, ketika datang yang menarik hati eehhh mundur karena takut cerita lama terulang kembali.
Aku hanya takut.
Takut jatuh cinta pada yang salah.
Takut tidak bisa memberikan bahagia yang sama.
Takut menyakiti tanpa sadar.
Taku menyakiti dengan sadar.
Takut mengecewakan yang tersayang.
Ya, aku takut.
Kalau takut melangkah bagaimana bisa maju?
Manusia perlu berubah... kearah yang lebih baik.
Katanya.
Oleh karena itu, sudah waktunya aku berubah.
Menurutku.
DOakan aku, Guys.
Dan akupun akan doakan kamu juga. Iya, kamu. Kamu yang memiliki rasa sakit hati yang sama denganku. Kamu yang di-pehape--in Cinta Pertama, kamu yang hanya bisa mendamba CInta Terdalam dan tentunya kamu yang dilukai oleh Pacar Pertama. Semoga kita bisa melepas segala rasa untuk mereka, entah itu benci ataupun cinta. Lepaskan rasa, simpan ingatan. Pengalamanmu saat ini akan menjadi cerita yang menarik untuk putra-putrimu nanti. #cekikikan
Jangan lupa berterima kasih pada mereka. Tanpa mereka, kita yang sekarang tak akan pernah ada. Kita yang seikhlas ini, kita yang sesabar ini dan kita yang sedewasa ini.
Teruntuk Cinta Pertamaku, terima kasih karena sudah mengajariku tentang cinta dan rasa suka.
Teruntuk Cinta Terdalamku, terima kasih karena sudah mengajariku cara mencintai dengan serius.
Teruntuk Pacar Pertamaku, terima kasih karena sudah membuatku sadar bahwa aku bisa melepas semua cinta yang kupunya untuk diserahkan sepenuhnya kepada seseorang yang aku ajak berkomitmen untuk bersama
Mungkin segalanya tidak berhasil dengan kalian tapi aku yakin segalanya selalu akan membantu yang di depan untuk berhasil.
Have a nice weekend ya All(gazali)!
:* *kiss*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar