Selasa, 09 Juni 2026

Menikmati Kehidupan

Sepertinya aku pernah menikmati hidupku.

Jauh sebelum aku menyadari bahwa orang-orang di luar diriku mengharapkan sesuatu yang lebih dariku.

Jauh sebelum aku mengenal ketakutan akan pengabaian.

Jauh sebelum aku takut mengecewakan orang lain.

Jauh sebelum aku percaya bahwa untuk menjadi orang baik dan membahagiakan semua orang, aku harus selalu mengikuti apa yang mereka mau.

Sepertinya sejak aku mulai terlalu memikirkan penilaian orang lain, sejak saat itu pula aku mulai kehilangan makna tentang menikmati kehidupan yang sesungguhnya.

Lalu...

BOOOM!

Setelah bertahun-tahun menyiksa diri.

Menderita karena perbuatanku sendiri, tetapi selalu menyalahkan orang lain.

Tersiksa karena hati yang terluka, tetapi tidak juga memahami kesalahan diri.

Banyak pertanyaan mulai bermunculan.

"Apa sebenarnya tujuanku hidup di dunia ini?"

"Kenapa rasanya aku tidak pernah bisa membuat orang lain puas hanya dengan kehadiranku saja?"

"Kenapa aku harus menjadi yang terbaik?"

"Kenapa aku harus menjadi teladan?"

"Kenapa aku harus menjadi superior?"

"Kenapa aku harus menjadi yang paling bisa?"

"Kenapa semakin keras aku berusaha membahagiakan orang lain, justru semakin mengecewakan pula hasilnya?"

"Kenapa semakin besar usahaku, semakin tidak terlihat pula pengorbananku?"

"Kenapa aku semakin merasa kesepian?"

"Kenapa aku semakin merasa tidak penting?"

"Kenapa aku semakin merasa tidak berharga?"

Padahal kalau dipikir-pikir, aku sudah berusaha semampuku.

All out.

Sepenuh hati.

Semaksimal mungkin.

Namun tetap saja rasanya tidak pernah cukup.

Lalu muncul pertanyaan yang lebih gelap.

"Kalau kehadiranku setidak berguna ini, kenapa Tuhan masih memberiku umur?"

"Gimana sebenarnya cara hidup yang benar?"

Sampai akhirnya pikiranku kelelahan.

Benakku kehabisan cara untuk memanipulasi jawaban.

Sampai akhirnya kehidupan memberikan tekanan yang begitu besar sehingga semua alasan dan pembelaan diri runtuh satu per satu.

Dan di tengah kelelahan itu, untuk pertama kalinya nurani mulai berbicara lebih keras daripada ketakutan.

Aku mulai bertanya lagi.

"Kalau memang belum waktuku mati, lalu bagaimana seharusnya aku hidup?"

"Aku lelah hidup hanya untuk bertanya dan menangis setiap hari."

"Apa sebenarnya tujuan hidup ini?"

Lalu aku mencoba mencari jawabannya.

Awalnya aku mengira tujuan hidup adalah pencapaian.

Namun pencapaian selalu berubah.

Hari ini ingin ini.

Besok ingin itu.

Hari ini merasa cukup.

Besok merasa kurang lagi.

Tidak ada habisnya.

Kalau tujuan hidup didasarkan pada keinginan, maka tujuan hidup akan terus berganti sampai akhir hayat.

Dan pada titik itulah aku sampai pada sebuah kesimpulan yang sangat sederhana.

Tujuan hidup ini mungkin sesederhana:

Menikmati kehidupan.

Maksudnya bagaimana?

Menikmati berarti merasakan hidup seutuhnya.

Saat bahagia, ya berbahagialah.

Tertawa sampai keluar kentut pun tidak apa-apa.

Tersenyum tipis seperti garis pulpen 0,5 mm juga tidak masalah.

Terkikik sendiri seperti kuntilanak pun sah-sah saja.

Rasakan.

Sadari.

Nikmati.

"Oh... begini rasanya bahagia."

Lalu izinkan rasa itu hadir dan berlalu sesuai waktunya.

Begitu juga saat sedih.

Menangislah jika ingin menangis.

Berduka jika memang sedang berduka.

Galau jika memang sedang galau.

Rasakan.

Sadari.

Pahami.

Lalu izinkan semua emosi itu melewati dirimu.

Tanpa dipancing-pancing agar tetap tinggal.

Tanpa dipelihara agar terus hidup.

Karena terkadang kita memang suka begitu.

Sedih sekali.

Lalu diputar ulang lagi dalam kepala.

Seperti menonton drama Korea favorit.

Adegan yang sama.

Luka yang sama.

Air mata yang sama.

Berulang-ulang.

Padahal momennya sudah lewat.

Lucunya lagi, bahkan kenangan bahagia pun sering kita gunakan untuk menyiksa diri.

"Ya ampun, dulu aku sebahagia itu."

"Kenapa sekarang hidupku jadi seperti ini?"

Wkwkwkwk.

Padahal kalau kita benar-benar menikmati kehidupan yang sedang berlangsung saat ini, kita tidak akan terlalu sibuk tinggal di masa lalu.

Kita akan hadir di sini.

Di saat ini.

Di momen ini.

Karena menikmati hidup bukan berarti selalu bahagia.

Menikmati hidup berarti hadir sepenuhnya dalam apa yang sedang terjadi.

Menikmati kesedihan yang ada.

Memberikan ruang untuk berduka.

Menghormati perasaan yang muncul.

Karena sekecil apa pun masalahnya, jika emosi kita sampai terluka, berarti ada sesuatu yang penting bagi diri kita yang sedang tersentuh.

Mungkin ada trauma yang belum kita sadari.

Mungkin tubuh dan pikiran kita sedang lelah.

Mungkin kita sedang tidak stabil secara emosional.

Dan itu tidak apa-apa.

Hargai dirimu yang sedang bersedih.

Kasihi dirimu yang sedang rapuh.

Izinkan ia menangis.

Izinkan ia berbicara.

Izinkan ia mengekspresikan dirinya.

Tidak peduli apa kata orang lain.

Tidak peduli bagaimana penilaian mereka.

Karena yang paling penting adalah kamu menerima keberadaanmu sendiri.

Seutuhnya.

Tanpa menghakimi.

Tanpa memberi label.

Tanpa mengabaikan.

Menikmati kesedihan bukan berarti tenggelam di dalamnya selamanya.

Menikmati kesedihan berarti memahami bagaimana rasanya.

"Oh, begini rasanya kehilangan."

"Oh, begini rasanya kecewa."

"Oh, begini rasanya ketika sesuatu yang kuinginkan tidak tercapai."

Lalu setelah itu?

Kita bertanya lagi.

"Apa yang bisa kulakukan sekarang?"

Apakah meratap akan mengubah keadaan?

Apakah menyesal akan menciptakan keajaiban?

Atau justru aku perlu bangkit dan mencoba lagi?

Belajar lagi?

Menjalani pengalaman baru lagi?

Karena apa yang terjadi saat ini tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.

Kalaupun perasaannya mirip.

Kalaupun emosinya serupa.

Detail kejadiannya pasti berbeda.

Orangnya berbeda.

Waktunya berbeda.

Situasinya berbeda.

Karena satu-satunya hal yang benar-benar tetap di dunia ini adalah perubahan.

Jadi...

Mari menikmati kehidupan.

Sudah terlalu lama aku menjalani hidup hanya untuk menyesal.

Sudah terlalu lama aku sibuk mengecewakan diriku sendiri.

Sudah terlalu lama aku hidup di bawah bayang-bayang penilaian orang lain.

Sekarang waktunya beranjak.

Berjalan.

Membuka jendela.

Membiarkan cahaya masuk kembali.

Karena awan gelap ini sudah cukup lama tinggal.

Dan mungkin...

Sudah waktunya ia menyingkir.

Lalu, Move!

Ternyata kunci hidup yang sederhana adalah bergerak. Move.

Untuk setiap hal yang sudah dikerjakan, sempurna ataupun tidak, move.

Untuk setiap perasaan yang tidak terselesaikan, tetapi momennya sudah lewat, move.

Biarkan hati merasakan setiap rasa yang datang sampai emosi itu mereda dan berganti. Setelah itu, move.

Tidak perlu memanggil-manggil kembali rasa yang sudah selesai. Tidak perlu mengulang-ulang luka yang sudah lewat.

Semua yang terjadi memang sudah terjadi sebagaimana mestinya terjadi. Mau dipikirkan berulang kali, mau diutak-atik seperti apa pun, kejadian itu tidak bisa diubah. Ia sudah lewat.

Jika ada yang ingin diperbaiki, maka tempat memperbaikinya hanya ada di saat ini. Present moment.

Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki hari ini. Dan yang paling berada dalam kendali kita adalah diri kita sendiri.

Cara merespons.

Cara bereaksi.

Cara berpikir.

Cara mengelola rasa.

Kejadian mungkin tidak bisa kita ubah, tetapi energi yang kita hasilkan dari cara kita merespons kejadian itulah yang akan memengaruhi langkah berikutnya.

Aksi, reaksi, dan emosi akan melahirkan energi. Dari energi-energi itulah masa depan perlahan terbentuk.

Karena itu, ketika ada sesuatu yang membuat hati tidak nyaman, sadari bahwa kita tidak bisa mengubah kejadian yang telah terjadi, apalagi mengubah orang lain. Namun kita masih bisa mengubah cara kita merasakan dan memaknainya.

Rasa takut, cemas, khawatir, kecewa, marah, dan berbagai rasa berat lainnya tidak akan membawa kita ke mana-mana selain ke tempat di mana perasaan-perasaan itu tumbuh semakin besar. Bahkan sering kali menarik pengalaman serupa untuk terus berulang dalam hidup kita.

Maka saat rasa tidak nyaman itu muncul, sadari bahwa yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.

Ikhlaskan apa yang telah terjadi.

Serahkan kembali segala beban rasa kepada-Nya.

Mohon ampun karena tanpa sadar kita telah membiarkan diri tenggelam dalam penderitaan yang kita pelihara sendiri.

Lalu mintalah izin untuk melepaskan semua derita itu.

Pilih untuk kembali merasakan damai.

Damai karena menerima.

Damai karena memahami bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan keinginan atau pikiran kita.

Karena pada akhirnya, yang sudah terjadi tetaplah sudah
terjadi.

Lalu bagaimana lagi?

Move.


Senin, 03 November 2025

Kamu Tidak Kurang Layak

Hari-hari ini aku cukup sering membaca dan mendengar pernyataan seperti:

"Mungkin aku belum dikasih anak karena belum layak menjadi orang tua."

"Ya Tuhan, layakkanlah aku untuk menjadi seorang ibu."

"Mungkin aku memang belum layak menjadi ibu."

"Mungkin Tuhan menganggap aku belum layak memiliki anak."

Dan berbagai kalimat serupa lainnya.

Gengs...

Jangan berpikir seperti itu.

Energinya tidak enak, lho.

Nelangsa bukan berarti ikhlas.

Putus asa bukan berarti melepas.

Kalau mau dibandingkan dengan kisah hidupku, kurang "tidak layak" apa aku dan mantan suamiku menjadi orang tua?

Kami berpisah dengan persoalan hak asuh dan realisasi pengasuhan. Secara logika, mungkin ada yang akan berkata bahwa manusia seperti kami seharusnya dari awal sudah bisa diprediksi tidak layak memiliki anak. Kami memiliki kemungkinan membesarkan anak dalam keluarga yang tidak utuh. Kami juga membawa berbagai luka dan konflik yang bahkan sampai hari ini masih menyisakan jejaknya.

Tapi ternyata hidup tidak bekerja sesederhana itu.

Apapun yang terjadi dalam hidup ini, aku tidak percaya itu terjadi karena kita tidak layak.

Sungguh.

Aku yakin bukan soal kelayakan.

Kita tidak serendah itu nilainya sampai harus mendefinisikan diri sebagai manusia yang tidak layak.

Kita selalu layak untuk dicintai.

Kita selalu layak untuk berharap.

Kita selalu layak untuk hidup dengan penuh makna.

Keterbatasan manusia hanya ada pada ruang dan waktu.

Kalau sesuatu belum terjadi, bisa jadi memang belum waktunya.

Kalau sesuatu tidak terwujud, bisa jadi memang bukan jalannya.

Dan itu tidak otomatis membuat kita gagal atau tidak berharga.

Release.

Lepaskan.

Selama ruang, waktu, dan harapan belum menemukan titik temunya, tugas kita hanya satu:

Menjalani hidup sebaik-baiknya.

Memperbaiki diri.

Belajar.

Bertumbuh.

Berlaku baik kepada sesama makhluk yang dipertemukan dengan kita.

Semua itu bukan semata-mata untuk mengejar sebuah "kelayakan".

Melainkan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita pada kehidupan ini.

Well done ya, Gengs.

Kita patut bangga menjadi diri kita sendiri.

Bertumbuh menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Bersikap baik dan berbuat baik tanpa harus selalu berharap diperlakukan sama oleh orang lain.

Karena kenyataannya, tidak semua orang akan memperlakukan kita dengan baik.

Dan ketika itu terjadi, pertanyaannya bukan:

"Mengapa mereka melakukan itu kepadaku?"

Melainkan:

"Respon terbaik apa yang bisa kutunjukkan kepada dunia?"

Emosi itu wajar.

Marah itu wajar.

Sedih itu wajar.

Kecewa itu juga wajar.

Namun apakah emosi itu akan kita olah menjadi sumber kekuatan dan pertumbuhan, atau justru menjadi sumber kerusakan bagi diri sendiri dan orang lain, itulah bagian dari kebebasan yang kita miliki.

Tetap semangat menjalani hidup, Gengs.

Kita mungkin tidak bisa mengatur semua hasil.

Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana cara kita menjalani perjalanan ini.

I love you. ❤️

Kamis, 13 Oktober 2022

Ketika Bersyukur Terasa Mustahil

Aku ingin bertanya.

Pernahkah kamu berada di masa ketika hidup terasa begitu indah?

Semua terasa mudah.

Banyak hal berjalan sesuai harapan.

Orang-orang baik berdatangan.

Rezeki terasa cukup.

Tubuh sehat.

Pikiran tenang.

Dan tanpa sadar, kita mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kita bangun pagi dengan ringan.

Menjalani hari dengan penuh semangat.

Lalu menutup hari dengan perasaan syukur karena kehidupan terasa berpihak kepada kita.

Pada masa-masa seperti itu, bersyukur terasa mudah.

Sangat mudah.

Mudah sekali sampai-sampai kita lupa bahwa bersyukur bukanlah kemampuan yang diuji ketika hidup sedang baik-baik saja.

Kemampuan bersyukur justru diuji ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Karena roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar.

Waktu tidak pernah berhenti berjalan.

Dan hidup memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar permanen.

Suatu hari, hidup mulai bercerita dengan cara yang berbeda.

Keberuntungan yang dulu terasa dekat mendadak menjauh.

Kemudahan yang dulu terasa biasa mendadak menjadi barang mewah.

Apa yang selama ini berjalan lancar mulai menemui hambatan.

Apa yang selama ini kita yakini mulai dipertanyakan.

Apa yang selama ini kita banggakan mulai runtuh satu per satu.

Dan seperti manusia pada umumnya, kita berusaha melawan.

Kita berusaha memperbaiki keadaan.

Kita mencoba lebih keras.

Lebih cepat.

Lebih banyak.

Lebih kuat.

Dengan harapan roda kehidupan segera berputar kembali ke arah yang kita inginkan.

Namun terkadang hidup tidak segampang itu.

Terkadang hidup memberi kita ujian dalam bentuk kesulitan yang panjang.

Kesulitan yang tidak selesai dalam semalam.

Kesulitan yang tidak bisa dibereskan hanya dengan berpikir positif.

Kesulitan yang membuat kita lelah.

Sangat lelah.

Sampai suatu titik kita kehilangan tenaga untuk terus berjuang.

Sampai suatu titik kita duduk terdiam dan bertanya:

"Aku harus bagaimana lagi?"

Lalu tanpa sadar, kita mulai jatuh.

Awalnya mungkin hanya sedikit.

Kemudian semakin dalam.

Dan semakin dalam lagi.

Sampai akhirnya kita berada di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Tempat yang gelap.

Tempat yang sunyi.

Tempat di mana harapan terasa jauh.

Tempat di mana bersyukur menjadi sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan.

Ketika kita berada di kedalaman yang tidak memungkinkan cahaya masuk, sangat sulit mengharapkan mata kita menangkap cahaya.

Jangankan bersyukur.

Berpikir jernih saja sulit.

Jangankan optimis.

Bangun dari tempat tidur saja terasa berat.

Jangankan melihat keindahan hidup.

Bertahan satu hari lagi saja terasa seperti perjuangan besar.

Pada fase ini, banyak orang berkata:

"Bersyukurlah."

Dan aku memahami maksud baik mereka.

Namun sering kali mereka lupa bahwa orang yang sedang berada di dalam lubang tidak sedang membutuhkan nasihat tentang cahaya.

Mereka sedang kesulitan melihat cahaya itu sendiri.

Karena memang gelap.

Dan ketika gelap, kemampuan kita untuk melihat menjadi terbatas.

Itulah sebabnya aku tidak pernah menyalahkan diriku ketika kesulitan bersyukur.

Aku tidak menyalahkan diriku ketika marah.

Aku tidak menyalahkan diriku ketika kecewa.

Aku tidak menyalahkan diriku ketika menangis.

Karena semua itu adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia.

Etapi...

Ada satu hal yang kemudian kusadari.

Walaupun mata fisikku tidak mampu menemukan cahaya di luar diriku, bukan berarti cahaya itu tidak ada.

Bagaimana jika selama ini aku mencarinya di tempat yang salah?

Bagaimana jika cahaya yang kucari ternyata tidak berada di luar?

Bagaimana jika cahaya itu justru berada di dalam diriku sendiri?

Aku percaya bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan.

Dan sebagai ciptaan-Nya, kita membawa percikan kehidupan dari-Nya.

Percikan itu tidak pernah benar-benar padam.

Meski terkadang tertutup oleh ketakutan.

Tertutup oleh kemarahan.

Tertutup oleh penyesalan.

Tertutup oleh rasa gagal.

Tertutup oleh luka.

Namun tidak pernah padam.

Maka mungkin tugas kita bukan menciptakan cahaya.

Melainkan menyadari bahwa cahaya itu sudah ada.

Gampang?

ENGGAK SEGAMPANG ITU, GENGS!

Kalau segampang itu, aku juga sudah selesai dari dulu.

Masalahnya, manusia itu unik.

Hari ini sadar.

Besok lupa.

Hari ini semangat.

Besok galau.

Hari ini merasa tercerahkan.

Besok overthinking lagi.

Kadang baru lima menit merasa damai, tahu-tahu sudah berdebat lagi sama isi kepala sendiri.

Makanya menurutku, tersadar saja tidak cukup.

Tersadar hanyalah awal.

Karena setelah sadar, kita tetap harus pulih.

Dan proses pemulihan itulah yang sering kali paling berat.

Karena setelah sadar, kita tetap harus pulih.

Dan proses pemulihan itulah yang sering kali paling berat.

Banyak orang membayangkan bahwa kesadaran adalah garis akhir.

Padahal tidak.

Kesadaran hanyalah garis start.

Setelah sadar bahwa kita sedang terjatuh, kita masih harus bangun.

Setelah bangun, kita masih harus berjalan.

Setelah berjalan, kita masih harus belajar agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Dan semua itu membutuhkan energi.

Masalahnya, saat kita baru saja terjatuh, energi itu sering kali belum tersedia.

Tubuh kita kelelahan.

Pikiran kita kusut.

Perasaan kita berantakan.

Dan dunia di sekitar kita belum tentu ikut memahami apa yang sedang kita alami.

Kadang justru ketika kita sedang berusaha bangkit, kita masih harus menghadapi komentar orang lain.

"Kok masih sedih?"

"Kok belum move on?"

"Kok belum berhasil?"

"Kok belum pulih?"

Seolah-olah pemulihan memiliki tenggat waktu.

Seolah-olah luka memiliki jadwal kapan harus sembuh.

Padahal setiap manusia memiliki ritmenya sendiri.

Ada luka yang sembuh dalam hitungan minggu.

Ada yang butuh bertahun-tahun.

Ada yang bahkan meninggalkan bekas seumur hidup.

Dan itu tidak apa-apa.

Karena tujuan pemulihan bukan menjadi seperti sebelum terluka.

Melainkan belajar hidup dengan lebih bijaksana setelah terluka.

Maka ketika aku menyadari diriku sedang jatuh, perlahan aku belajar untuk tidak lagi memusuhi diriku sendiri.

Aku belajar untuk mengasihi diriku.

Aku belajar untuk tidak menuntut diriku segera sempurna.

Aku belajar untuk tidak marah ketika ternyata aku masih sedih.

Masih kecewa.

Masih takut.

Masih khawatir.

Karena ternyata menjadi manusia memang seperti itu.

Kita bukan mesin.

Kita bukan robot.

Kita bukan program komputer yang cukup diperbaiki satu baris kode lalu langsung kembali normal.

Tubuh kita memiliki prosesnya sendiri.

Pikiran kita memiliki prosesnya sendiri.

Hati kita juga memiliki prosesnya sendiri.

Dan semuanya membutuhkan waktu.


Lalu muncul pertanyaan berikutnya.

Kalau begitu, bagaimana cara membantu diri sendiri untuk pulih?

Nah, di sinilah aku menemukan sesuatu yang menarik.

Semakin aku memperhatikan diriku sendiri, semakin aku menyadari bahwa suasana emosi ternyata mempengaruhi banyak hal.

Ketika aku marah, tubuhku terasa berat.

Ketika aku cemas, pikiranku menjadi sempit.

Ketika aku takut, aku sulit melihat peluang.

Ketika aku kecewa, aku kehilangan semangat.

Bukan karena dunia berubah.

Tetapi karena cara aku memandang dunia sedang berubah.

Lalu aku mulai memahami bahwa proses pemulihan bukan hanya soal memperbaiki keadaan di luar diriku.

Tetapi juga memperbaiki keadaan di dalam diriku.

Karena seburuk apa pun keadaan di luar, jika keadaan di dalam masih mampu tenang, aku masih memiliki kesempatan untuk berpikir jernih.

Sebaliknya, sebaik apa pun keadaan di luar, jika keadaan di dalam penuh kekacauan, hidup tetap akan terasa berat.

Maka aku mulai bertanya kepada diriku sendiri:

"Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki suasana di dalam diriku?"

Dan jawaban yang muncul ternyata sederhana sekali.

BERSYUKUR.


Etapi...

Serius ya.

Bersyukur itu gampang kalau hidup sedang enak.

Bersyukur itu gampang kalau rekening aman.

Bersyukur itu gampang kalau badan sehat.

Bersyukur itu gampang kalau hubungan baik-baik saja.

Bersyukur itu gampang kalau semua sesuai rencana.

Yang susah adalah bersyukur ketika hidup sedang berantakan.

Ketika baru gagal.

Ketika baru ditolak.

Ketika baru kehilangan.

Ketika baru dikecewakan.

Ketika baru jatuh.

Nah itu baru level dewa.

Karena pada saat-saat seperti itu, godaannya luar biasa.

Kita tergoda untuk marah.

Tergoda untuk menyalahkan.

Tergoda untuk menyesal.

Tergoda untuk mencari kambing hitam.

Tergoda untuk menyerah.

Dan kalau sudah begitu, sekadar mengucapkan:

"Terima kasih Tuhan."

Rasanya bisa berat sekali.

Aku tahu.

Karena aku pernah ada di sana.

Bahkan menuliskan sepuluh rasa syukur setiap pagi seperti yang diajarkan dalam beberapa metode pengembangan diri pun rasanya seperti tugas yang mustahil.

Mau bersyukur apa?

Kepalanya saja masih mumet.

Hatinya masih sakit.

Air mata masih dekat.

Dan hidup masih terasa tidak adil.

Lalu suatu hari aku menyadari sesuatu.

Kalau aku tidak mampu menemukan rasa syukur secara alami, mungkin aku boleh meminta bantuan.

Mungkin aku boleh membuat daftar pengingat.

Mungkin aku boleh membuat "contekan".

Mungkin aku boleh membuat "hint".

Sama seperti saat bermain game.

Kalau mentok, kita cari petunjuk.

Kalau bingung, kita minta bantuan.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:

"Memangnya boleh?"

Dan segera aku tertawa.

Karena pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya adalah:

"Memangnya siapa yang bilang tidak boleh?"

Kalau meminta bantuan membuatku lebih cepat pulih, kenapa tidak?

Kalau membuat daftar syukur membantuku mengingat cahaya, kenapa tidak?

Kalau mengulang kalimat-kalimat baik membantuku berdiri kembali, kenapa tidak?

Bukankah semua hal yang membantu kita bertumbuh layak dicoba?

Karena pada akhirnya tidak ada yang benar-benar sia-sia.

Kalau berhasil, kita mendapatkan manfaat.

Kalau belum berhasil, kita mendapatkan pelajaran.

Dan keduanya tetaplah hadiah.

Maka inilah daftar yang kutulis untuk diriku sendiri.

Bukan karena aku selalu mampu merasakan semuanya.

Melainkan karena aku ingin mengingatnya kembali saat aku lupa.

Karena suatu hari nanti, mungkin aku akan jatuh lagi.

Dan ketika hari itu datang, aku ingin meninggalkan jejak kecil yang bisa membantuku menemukan jalan pulang.


Kalau kamu membaca tulisan ini sampai bagian ini, mungkin ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, hidupmu sedang baik-baik saja.

Kalau begitu, syukurlah.

Nikmati.

Rasakan.

Hargai setiap kemudahan yang sedang kamu miliki hari ini.

Karena sering kali kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya.

Namun ada kemungkinan kedua.

Kemungkinan yang membuat tulisan ini sebenarnya ditulis.

Yaitu ketika suatu hari nanti kamu kembali terjatuh.

Karena sejujurnya, aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan selalu baik-baik saja.

Aku tidak bisa menjanjikan bahwa setelah memahami semua ini, kita tidak akan pernah sedih lagi.

Tidak akan pernah kecewa lagi.

Tidak akan pernah marah lagi.

Tidak akan pernah menangis lagi.

Kita tetap manusia.

Dan menjadi manusia berarti tetap memiliki kemungkinan untuk terluka.

Bahkan ketika kita sudah berada di jalan yang menurut kita benar.

Bahkan ketika niat kita baik.

Bahkan ketika energi kita positif.

Bahkan ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga.

Kesulitan tetap bisa datang.

Masalah tetap bisa muncul.

Dan hidup tetap bisa memberi kejutan yang tidak kita minta.

Kenapa?

Aku tidak tahu pasti.

Tapi kalau harus menggunakan bahasa yang lebih ringan, aku suka membayangkannya seperti ini.


Alkisah...

Suatu hari kita mengajukan proposal kepada Semesta.

Proposal tentang kehidupan yang ingin kita jalani.

Proposal tentang mimpi yang ingin kita capai.

Proposal tentang hubungan yang ingin kita bangun.

Proposal tentang pekerjaan yang ingin kita lakukan.

Proposal tentang versi diri yang ingin kita wujudkan.

Dan menurut kita, proposal itu bagus.

Bahkan sangat bagus.

Kita yakin jika proposal itu terwujud, banyak hal baik akan lahir darinya.

Lalu kita menunggu.

Namun ternyata proposal itu tidak langsung disetujui.

Muncullah hambatan.

Muncullah penundaan.

Muncullah tantangan.

Muncullah ujian.

Lalu kita mulai panik.

"Kenapa tidak langsung dikabulkan?"

"Apakah aku salah?"

"Apakah aku tidak layak?"

"Apakah jalanku keliru?"

Padahal bisa jadi bukan itu alasannya.

Bisa jadi Semesta hanya sedang bertanya:

"Seberapa yakin kamu dengan apa yang kamu minta?"

"Seberapa besar kepercayaanmu terhadap jalan yang sedang kamu pilih?"

"Apakah kamu tetap akan berjalan ketika hasilnya belum terlihat?"

"Apakah kamu tetap akan percaya ketika keadaan tidak sesuai harapanmu?"

Karena sesuatu yang besar sering kali membutuhkan fondasi yang besar pula.

Membutuhkan keyakinan yang lebih matang.

Membutuhkan keberanian yang lebih kuat.

Membutuhkan kesabaran yang lebih panjang.

Dan terkadang ujian bukan hadir untuk menghentikan kita.

Melainkan untuk memperkuat alasan mengapa kita memulainya.


Namun...

Kalaupun ternyata apa yang kita perjuangkan tidak terwujud.

Kalaupun ternyata proposal itu tidak pernah mendapatkan persetujuan.

Kalaupun ternyata jalan hidup membawa kita ke arah yang sama sekali berbeda.

Aku juga mulai belajar menerima bahwa itu bukan berarti perjalanan ini gagal.

Karena selama menjalaninya, kita telah belajar.

Kita telah bertumbuh.

Kita telah menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.

Dan bukankah itu juga sebuah keberhasilan?

Kadang kita terlalu fokus pada tujuan.

Sampai lupa menghargai perubahan yang terjadi pada diri kita selama perjalanan.

Padahal mungkin itulah hadiah yang sebenarnya.


Jadi untuk Yeya di masa depan...

Kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini sambil menangis...

Kalau suatu hari nanti kamu kembali merasa lelah...

Kalau suatu hari nanti kamu merasa hidup tidak adil...

Kalau suatu hari nanti kamu merasa sendirian...

Tolong ingat satu hal.

Kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya.

Dan kamu bisa melakukannya lagi.

Mungkin tidak hari ini.

Mungkin tidak besok.

Mungkin tidak minggu depan.

Tapi pelan-pelan.

Satu napas.

Satu langkah.

Satu hari pada satu waktu.

Tidak perlu terburu-buru.

Tidak perlu langsung sempurna.

Tidak perlu langsung kuat.

Cukup terus bergerak.

Cukup terus hidup.

Cukup terus mengingat bahwa cahaya itu masih ada.

Karena cahaya itu tidak pernah benar-benar pergi.

Kamu hanya sedang lupa cara melihatnya.

Dan ketika kamu lupa...

Berhentilah sejenak.

Tarik napas.

Buka kembali tulisan ini.

Lalu mulai lagi dari rasa syukur yang paling sederhana.

Terima kasih Tuhan.

Aku masih di sini.

Aku masih hidup.

Dan itu berarti ceritaku belum selesai.

Dengan penuh kasih,

Untuk diriku sendiri.

Untuk Yeya.

Yang selalu berusaha pulang kepada dirinya sendiri.

Sabtu, 28 Mei 2022

Mati dalam Kehidupan

Mati dalam Kehidupan

Hai, perkenalkan. Namaku Yeya.

Hari ini aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang mengalami syok kultural, syok emosional, dan syok hormonal secara bersamaan. Untuk mendalami peran, izinkan aku bercerita dari sudut pandang orang pertama.

Disclaimer: CERITA INI SEDIH.
Jadi kalau kamu sedang sedih, mungkin jangan baca dulu, guys.


Berkali-kali aku berpikir untuk mati.

Namun aku tidak bisa mati sekarang karena aku masih memiliki tanggung jawab.

Meski begitu, aku ingin mati saja.

Aku malu membawa diriku sendiri.

Aku jijik pada tubuhku.

Aku lelah dengan hidupku.

Dan yang paling menyakitkan, aku sepenuhnya kecewa pada diriku sendiri.

Berbagai pertimbangan selalu membuatku ragu. Sampai suatu hari aku bertanya pada diriku sendiri:

"Apa sih sebenarnya yang kamu cari dari kematian itu?"

Jawabannya sederhana.

Rest in peace.
Istirahat dalam damai.

Lalu aku berpikir lagi.

Memangnya kalau bunuh diri, bisa benar-benar beristirahat dalam damai?

Belum tentu, kan?

Kalau begitu, kenapa mengambil keputusan yang begitu besar berdasarkan keputusasaan sesaat terhadap masa depan yang bahkan belum terjadi?

Bukankah sebenarnya yang kubutuhkan hanya satu hal?

Istirahat.

Tenang.

Lalu muncul sebuah ide yang terasa aneh.

Kalau mati saja aku berani, kenapa aku tidak mencoba mati dalam kehidupan ini?

Maksudku, aku sudah memiliki keberanian untuk meninggalkan semuanya. Aku sudah memiliki keberanian untuk membuang semua beban yang selama ini kupikul. Namun setiap kali aku ingin mengakhiri hidup, selalu ada orang yang berkata bahwa keberadaanku masih dibutuhkan dan kematian bukanlah solusi.

Mereka mungkin benar.

Atau mungkin juga tidak.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, kematian membuatku tidak bisa memilih.

Sedangkan kehidupan masih memberiku pilihan.

Jika selama ini aku terbebani karena terlalu peduli, kenapa tidak mencoba untuk tidak peduli?

Tidak peduli pada penilaian orang lain.

Tidak peduli pada cibiran yang tidak membangun.

Tidak peduli pada komentar yang bahkan tidak bertanggung jawab.

Jika aku memahami sesuatu sebagai hal yang benar, maka aku akan melakukannya.

Jika aku yakin sedang berjalan di jalanku sendiri, maka aku tidak perlu meminta izin kepada semua orang untuk melangkah.

Kematian membuat seseorang tidak lagi bisa memilih untuk peduli.

Namun kehidupan memberiku hak untuk memilih:

Peduli.

Atau tidak peduli.

Yang dibutuhkan hanyalah keberanian, sedikit kenekatan, dan kepercayaan pada diri sendiri.

Tidak perlu takut salah.

Karena setiap proses adalah pembelajaran.

Pada akhirnya hasilnya selalu baik.

Entah itu kebahagiaan.

Atau pengalaman.

Tidak ada yang benar-benar hilang.


Tidurlah saat mengantuk.

Makanlah saat lapar.

Sesuai kebutuhanmu.

Sesuai takaranmu.

Sesuai tubuhmu.

Orang mungkin bilang kamu tidur terlalu lama seperti kerbau.

Tapi jika tubuhmu memang membutuhkan istirahat, maka tidurlah, sayang.

Orang mungkin mengatakan matamu berkantung dan terlihat seperti panda.

Tapi jika kamu merasa baik-baik saja dan memahami kebutuhan tubuhmu sendiri, maka biarkan saja.

Orang akan selalu punya pendapat tentang apa yang harus kamu makan, bagaimana kamu harus hidup, dan seperti apa kamu seharusnya terlihat.

Biarkan saja.

Mereka hanya bicara.

Dan tidak semua ucapan harus kamu bawa pulang ke dalam hati.


Lalu aku mulai memahami sesuatu.

Jika ada orang yang tidak bisa menghargaimu, itu tidak otomatis berarti kamu tidak berharga.

Kadang itu hanya berarti mereka tidak tahu bagaimana cara menghargai orang lain.

Kadang itu berarti mereka tidak menghormati pilihan yang berbeda dari pilihan mereka sendiri.

Dan kadang, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu.

Masalahnya ada pada mereka.

Bukan padamu.

Karena nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh kemampuan orang lain dalam menghargainya.

Sabtu, 21 Mei 2022

Menjadi Ketua Tim Audit Internal: Kisah Anak Piyik yang Overthinking

Hai, selamat datang.

Perkenalkan, aku Yeya.

Hari ini aku ingin bercerita tentang saat aku pertama kali ditunjuk menjadi Ketua Tim Audit Internal.

Perasaanku saat itu?

Kacau.

Aku merasa tidak sanggup.

Aku merasa itu tidak adil.

Aku syok.

Aku sedih.

Pokoknya rasanya berat sekali.

Bahkan terasa mustahil.

Sampai-sampai setelah keluar dari ruangan Kepala Puskesmas, aku oleng dan hampir jatuh karena kakiku mendadak lemas.

Lemah?

Iya, jelas.

Aku memang sedang merasa lemah saat itu.

Di kepalaku, audit adalah pekerjaan orang-orang hebat. Orang-orang yang mumpuni. Orang-orang yang disegani. Orang-orang yang paham betul apa yang mereka kerjakan.

Sedangkan aku?

Aku hanya anak piyik.

Pegawai kontrak.

Baru delapan bulan bekerja di Puskesmas.

Baru sebulan sebelumnya mengikuti pelatihan yang kebetulan membahas Audit Internal.

Apa itu Puskesmas?

Apa itu Audit Internal?

Aku bahkan masih berusaha memahaminya.

Jadi ya, aku overthinking luar biasa.

Wkwkwk.

Lalu apa yang terjadi?

Aku bekerja sambil menangis.

Aku bekerja sambil mengomel dalam hati.

Aku mengerjakan semua hal yang disarankan orang kepadaku.

Mulai dari membuat SK Tim, SK Panduan, RUK, RPK, Rencana Kerja, KAK, SOP, format laporan, format undangan, absensi, notulensi, dokumentasi rapat, materi rapat lintas sektor, sampai membagi tugas dengan teman-teman yang menjadi anggota timku.

Pokoknya apa saja yang diperlukan, aku kerjakan satu per satu.

Walaupun sambil panik.

Walaupun sambil mengeluh.

Walaupun sambil bertanya-tanya kenapa harus aku.

Namun ada satu hal yang sangat kusyukuri.

Aku dipertemukan dengan teman-teman setim yang baik.

Mereka tidak banyak protes.

Mereka mau membantu.

Mereka proaktif.

Dan yang paling penting, mereka membuatku merasa tenang.

Aku sudah cukup pusing memikirkan konsep dan dokumennya. Syukurlah aku tidak perlu pusing memikirkan konflik internal dalam tim.

Teman-teman auditee pun sangat terbuka.

Mereka menerima kami dengan baik.

Bahkan sering membantu memberikan ide-ide baru yang memperkaya proses audit itu sendiri.

Lalu tibalah masa akreditasi.

Bagaimana hasilnya?

Aman.

Kami memiliki panduan.

Kami memiliki bukti pelaksanaan.

Kami memiliki alur kerja.

Memang masih ada beberapa kekurangan dokumen. Namun sebagian besar hanya terkait bentuk dan format, bukan substansi.

Isi dan kebutuhan audit internal sebenarnya sudah tersedia. Hanya saja cara penyajian atau format tabelnya mungkin perlu disesuaikan.

Maklum, saat itu belum ada panduan resmi yang lengkap dari Kementerian Kesehatan.

Lalu bagaimana sekarang?

Sejak tahun 2017, jabatan itu masih setia bertengger di pundakku.

Apakah aku sudah merasa ahli?

Belum.

Jauh dari itu.

Kadang aku masih merasa seperti katak dalam tempurung.

Saat mengikuti kaji banding ke tempat lain, aku sering menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kuketahui.

Masih banyak yang perlu kupelajari.

Masih banyak masukan yang perlu kudengar.

Namun sekarang aku bisa melihat semuanya dengan cara yang berbeda.

Aku bersyukur.

Terima kasih semesta.

Terima kasih, Dok Maria.

Atas kesempatan yang pernah diberikan.

Meskipun di awal aku menangis meraung-raung dalam hati.

Meskipun sampai sekarang aku masih suka mengeluh ketika sedang kesulitan.

Tetapi tugas yang dokter berikan ternyata telah membantu menempa diriku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih percaya pada kemampuanku sendiri.

Kadang hidup memang tidak menunggu kita merasa siap.

Kadang hidup langsung menunjuk dan berkata,

"Kamu. Kerjakan."

Dan ternyata, sering kali kita jauh lebih mampu daripada yang selama ini kita kira.

Sabtu, 28 Februari 2015

Valentine (Late Post)

HAPPY VALENTINE!!

...
...
...

Sudah. Segitu saja.

...
...


BERCANDA! Ayo dimari merapat untuk mendengarkan ocehanku.

Baiklah, ini masih terlalu pagi untuk mengoceh, tapi sudah terlalu siang juga untuk tertidur lagi dan kembali bermimpi. Detik ini di layar laptopku terpampang pukul 05.47 WITA. Seharusnya saat ini aku sedang duduk belajar untuk diskusi nanti di kampus, tapi...yah begitulah. Refresh dulu sebelum bertarung. #cieee

Aku Tidak Mau Ketinggalan Euforia Valentine.

*the true title, anyway*

Kamu tanya aku jomlo? Ya, aku jomlo. Tepatnya aku single yang dulunya suka pake singlet.
*abaikan!*
Dulu waktu balita aku suka pakai singlet. Sekarang ganti jadi tanktop.
*abaikan lagi!*
Kenapa masih jomlo? Alasan terbaik yang bisa kukatakan untuk menjawab pertanyaan itu adalah 'belum ada yang cocok'. Klise memang. Tapi itu jawaban yang jujur. Tidak munafik sama sekali. Yang munafik adalah kenyataan bahwa aku lebih suka pakai tanktop sekarang daripada pakai singlet. Padahal sama-sama pakaian tanpa kerah tanpa lengan. Sama saja tampilannya!
*boleh diabaikan lagi kok*

"Btw, buat elo, cowok-cowok yang ngerasa kepedean dan mengira aku jomlo karena menunggu antrean dipillih oleh elo nanti ... please see yourself on the mirror. Ask yourself gitu, aku yang butuh kamu atau kamu yang butuh aku. Anyway, aku sih gak butuh kamu ya."
*eh tiba-tiba Si Pemarah muncul*

Well, demi menjaga kelangsungan hidup blog ini dan tentunya keahlian jemariku menari diatas tuts keyboad laptop, hari ini aku akan memposting sebuah essay postingan yang masih berbau ke-valentine-valentinan.
Well(pangkat dua), aku akan bercerita tentang Cinta Pertama, Cinta Terdalam dan Pacar Pertamaku.
*secara ringkas*
*atau mungkin juga tidak ringkas-ringkat amat*

Judul Super Sebenarnya :

Kulepas Dendamku untuk Melepasmu Sepenuhnya.
#EvilLaugh

Here We Go!