Kamis, 13 Oktober 2022

Ketika Bersyukur Terasa Mustahil

Aku ingin bertanya.

Pernahkah kamu berada di masa ketika hidup terasa begitu indah?

Semua terasa mudah.

Banyak hal berjalan sesuai harapan.

Orang-orang baik berdatangan.

Rezeki terasa cukup.

Tubuh sehat.

Pikiran tenang.

Dan tanpa sadar, kita mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.

Kita bangun pagi dengan ringan.

Menjalani hari dengan penuh semangat.

Lalu menutup hari dengan perasaan syukur karena kehidupan terasa berpihak kepada kita.

Pada masa-masa seperti itu, bersyukur terasa mudah.

Sangat mudah.

Mudah sekali sampai-sampai kita lupa bahwa bersyukur bukanlah kemampuan yang diuji ketika hidup sedang baik-baik saja.

Kemampuan bersyukur justru diuji ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.

Karena roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar.

Waktu tidak pernah berhenti berjalan.

Dan hidup memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar permanen.

Suatu hari, hidup mulai bercerita dengan cara yang berbeda.

Keberuntungan yang dulu terasa dekat mendadak menjauh.

Kemudahan yang dulu terasa biasa mendadak menjadi barang mewah.

Apa yang selama ini berjalan lancar mulai menemui hambatan.

Apa yang selama ini kita yakini mulai dipertanyakan.

Apa yang selama ini kita banggakan mulai runtuh satu per satu.

Dan seperti manusia pada umumnya, kita berusaha melawan.

Kita berusaha memperbaiki keadaan.

Kita mencoba lebih keras.

Lebih cepat.

Lebih banyak.

Lebih kuat.

Dengan harapan roda kehidupan segera berputar kembali ke arah yang kita inginkan.

Namun terkadang hidup tidak segampang itu.

Terkadang hidup memberi kita ujian dalam bentuk kesulitan yang panjang.

Kesulitan yang tidak selesai dalam semalam.

Kesulitan yang tidak bisa dibereskan hanya dengan berpikir positif.

Kesulitan yang membuat kita lelah.

Sangat lelah.

Sampai suatu titik kita kehilangan tenaga untuk terus berjuang.

Sampai suatu titik kita duduk terdiam dan bertanya:

"Aku harus bagaimana lagi?"

Lalu tanpa sadar, kita mulai jatuh.

Awalnya mungkin hanya sedikit.

Kemudian semakin dalam.

Dan semakin dalam lagi.

Sampai akhirnya kita berada di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Tempat yang gelap.

Tempat yang sunyi.

Tempat di mana harapan terasa jauh.

Tempat di mana bersyukur menjadi sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan.

Ketika kita berada di kedalaman yang tidak memungkinkan cahaya masuk, sangat sulit mengharapkan mata kita menangkap cahaya.

Jangankan bersyukur.

Berpikir jernih saja sulit.

Jangankan optimis.

Bangun dari tempat tidur saja terasa berat.

Jangankan melihat keindahan hidup.

Bertahan satu hari lagi saja terasa seperti perjuangan besar.

Pada fase ini, banyak orang berkata:

"Bersyukurlah."

Dan aku memahami maksud baik mereka.

Namun sering kali mereka lupa bahwa orang yang sedang berada di dalam lubang tidak sedang membutuhkan nasihat tentang cahaya.

Mereka sedang kesulitan melihat cahaya itu sendiri.

Karena memang gelap.

Dan ketika gelap, kemampuan kita untuk melihat menjadi terbatas.

Itulah sebabnya aku tidak pernah menyalahkan diriku ketika kesulitan bersyukur.

Aku tidak menyalahkan diriku ketika marah.

Aku tidak menyalahkan diriku ketika kecewa.

Aku tidak menyalahkan diriku ketika menangis.

Karena semua itu adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia.

Etapi...

Ada satu hal yang kemudian kusadari.

Walaupun mata fisikku tidak mampu menemukan cahaya di luar diriku, bukan berarti cahaya itu tidak ada.

Bagaimana jika selama ini aku mencarinya di tempat yang salah?

Bagaimana jika cahaya yang kucari ternyata tidak berada di luar?

Bagaimana jika cahaya itu justru berada di dalam diriku sendiri?

Aku percaya bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan.

Dan sebagai ciptaan-Nya, kita membawa percikan kehidupan dari-Nya.

Percikan itu tidak pernah benar-benar padam.

Meski terkadang tertutup oleh ketakutan.

Tertutup oleh kemarahan.

Tertutup oleh penyesalan.

Tertutup oleh rasa gagal.

Tertutup oleh luka.

Namun tidak pernah padam.

Maka mungkin tugas kita bukan menciptakan cahaya.

Melainkan menyadari bahwa cahaya itu sudah ada.

Gampang?

ENGGAK SEGAMPANG ITU, GENGS!

Kalau segampang itu, aku juga sudah selesai dari dulu.

Masalahnya, manusia itu unik.

Hari ini sadar.

Besok lupa.

Hari ini semangat.

Besok galau.

Hari ini merasa tercerahkan.

Besok overthinking lagi.

Kadang baru lima menit merasa damai, tahu-tahu sudah berdebat lagi sama isi kepala sendiri.

Makanya menurutku, tersadar saja tidak cukup.

Tersadar hanyalah awal.

Karena setelah sadar, kita tetap harus pulih.

Dan proses pemulihan itulah yang sering kali paling berat.

Karena setelah sadar, kita tetap harus pulih.

Dan proses pemulihan itulah yang sering kali paling berat.

Banyak orang membayangkan bahwa kesadaran adalah garis akhir.

Padahal tidak.

Kesadaran hanyalah garis start.

Setelah sadar bahwa kita sedang terjatuh, kita masih harus bangun.

Setelah bangun, kita masih harus berjalan.

Setelah berjalan, kita masih harus belajar agar tidak jatuh ke lubang yang sama.

Dan semua itu membutuhkan energi.

Masalahnya, saat kita baru saja terjatuh, energi itu sering kali belum tersedia.

Tubuh kita kelelahan.

Pikiran kita kusut.

Perasaan kita berantakan.

Dan dunia di sekitar kita belum tentu ikut memahami apa yang sedang kita alami.

Kadang justru ketika kita sedang berusaha bangkit, kita masih harus menghadapi komentar orang lain.

"Kok masih sedih?"

"Kok belum move on?"

"Kok belum berhasil?"

"Kok belum pulih?"

Seolah-olah pemulihan memiliki tenggat waktu.

Seolah-olah luka memiliki jadwal kapan harus sembuh.

Padahal setiap manusia memiliki ritmenya sendiri.

Ada luka yang sembuh dalam hitungan minggu.

Ada yang butuh bertahun-tahun.

Ada yang bahkan meninggalkan bekas seumur hidup.

Dan itu tidak apa-apa.

Karena tujuan pemulihan bukan menjadi seperti sebelum terluka.

Melainkan belajar hidup dengan lebih bijaksana setelah terluka.

Maka ketika aku menyadari diriku sedang jatuh, perlahan aku belajar untuk tidak lagi memusuhi diriku sendiri.

Aku belajar untuk mengasihi diriku.

Aku belajar untuk tidak menuntut diriku segera sempurna.

Aku belajar untuk tidak marah ketika ternyata aku masih sedih.

Masih kecewa.

Masih takut.

Masih khawatir.

Karena ternyata menjadi manusia memang seperti itu.

Kita bukan mesin.

Kita bukan robot.

Kita bukan program komputer yang cukup diperbaiki satu baris kode lalu langsung kembali normal.

Tubuh kita memiliki prosesnya sendiri.

Pikiran kita memiliki prosesnya sendiri.

Hati kita juga memiliki prosesnya sendiri.

Dan semuanya membutuhkan waktu.


Lalu muncul pertanyaan berikutnya.

Kalau begitu, bagaimana cara membantu diri sendiri untuk pulih?

Nah, di sinilah aku menemukan sesuatu yang menarik.

Semakin aku memperhatikan diriku sendiri, semakin aku menyadari bahwa suasana emosi ternyata mempengaruhi banyak hal.

Ketika aku marah, tubuhku terasa berat.

Ketika aku cemas, pikiranku menjadi sempit.

Ketika aku takut, aku sulit melihat peluang.

Ketika aku kecewa, aku kehilangan semangat.

Bukan karena dunia berubah.

Tetapi karena cara aku memandang dunia sedang berubah.

Lalu aku mulai memahami bahwa proses pemulihan bukan hanya soal memperbaiki keadaan di luar diriku.

Tetapi juga memperbaiki keadaan di dalam diriku.

Karena seburuk apa pun keadaan di luar, jika keadaan di dalam masih mampu tenang, aku masih memiliki kesempatan untuk berpikir jernih.

Sebaliknya, sebaik apa pun keadaan di luar, jika keadaan di dalam penuh kekacauan, hidup tetap akan terasa berat.

Maka aku mulai bertanya kepada diriku sendiri:

"Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki suasana di dalam diriku?"

Dan jawaban yang muncul ternyata sederhana sekali.

BERSYUKUR.


Etapi...

Serius ya.

Bersyukur itu gampang kalau hidup sedang enak.

Bersyukur itu gampang kalau rekening aman.

Bersyukur itu gampang kalau badan sehat.

Bersyukur itu gampang kalau hubungan baik-baik saja.

Bersyukur itu gampang kalau semua sesuai rencana.

Yang susah adalah bersyukur ketika hidup sedang berantakan.

Ketika baru gagal.

Ketika baru ditolak.

Ketika baru kehilangan.

Ketika baru dikecewakan.

Ketika baru jatuh.

Nah itu baru level dewa.

Karena pada saat-saat seperti itu, godaannya luar biasa.

Kita tergoda untuk marah.

Tergoda untuk menyalahkan.

Tergoda untuk menyesal.

Tergoda untuk mencari kambing hitam.

Tergoda untuk menyerah.

Dan kalau sudah begitu, sekadar mengucapkan:

"Terima kasih Tuhan."

Rasanya bisa berat sekali.

Aku tahu.

Karena aku pernah ada di sana.

Bahkan menuliskan sepuluh rasa syukur setiap pagi seperti yang diajarkan dalam beberapa metode pengembangan diri pun rasanya seperti tugas yang mustahil.

Mau bersyukur apa?

Kepalanya saja masih mumet.

Hatinya masih sakit.

Air mata masih dekat.

Dan hidup masih terasa tidak adil.

Lalu suatu hari aku menyadari sesuatu.

Kalau aku tidak mampu menemukan rasa syukur secara alami, mungkin aku boleh meminta bantuan.

Mungkin aku boleh membuat daftar pengingat.

Mungkin aku boleh membuat "contekan".

Mungkin aku boleh membuat "hint".

Sama seperti saat bermain game.

Kalau mentok, kita cari petunjuk.

Kalau bingung, kita minta bantuan.

Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:

"Memangnya boleh?"

Dan segera aku tertawa.

Karena pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya adalah:

"Memangnya siapa yang bilang tidak boleh?"

Kalau meminta bantuan membuatku lebih cepat pulih, kenapa tidak?

Kalau membuat daftar syukur membantuku mengingat cahaya, kenapa tidak?

Kalau mengulang kalimat-kalimat baik membantuku berdiri kembali, kenapa tidak?

Bukankah semua hal yang membantu kita bertumbuh layak dicoba?

Karena pada akhirnya tidak ada yang benar-benar sia-sia.

Kalau berhasil, kita mendapatkan manfaat.

Kalau belum berhasil, kita mendapatkan pelajaran.

Dan keduanya tetaplah hadiah.

Maka inilah daftar yang kutulis untuk diriku sendiri.

Bukan karena aku selalu mampu merasakan semuanya.

Melainkan karena aku ingin mengingatnya kembali saat aku lupa.

Karena suatu hari nanti, mungkin aku akan jatuh lagi.

Dan ketika hari itu datang, aku ingin meninggalkan jejak kecil yang bisa membantuku menemukan jalan pulang.


Kalau kamu membaca tulisan ini sampai bagian ini, mungkin ada dua kemungkinan.

Kemungkinan pertama, hidupmu sedang baik-baik saja.

Kalau begitu, syukurlah.

Nikmati.

Rasakan.

Hargai setiap kemudahan yang sedang kamu miliki hari ini.

Karena sering kali kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya.

Namun ada kemungkinan kedua.

Kemungkinan yang membuat tulisan ini sebenarnya ditulis.

Yaitu ketika suatu hari nanti kamu kembali terjatuh.

Karena sejujurnya, aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan selalu baik-baik saja.

Aku tidak bisa menjanjikan bahwa setelah memahami semua ini, kita tidak akan pernah sedih lagi.

Tidak akan pernah kecewa lagi.

Tidak akan pernah marah lagi.

Tidak akan pernah menangis lagi.

Kita tetap manusia.

Dan menjadi manusia berarti tetap memiliki kemungkinan untuk terluka.

Bahkan ketika kita sudah berada di jalan yang menurut kita benar.

Bahkan ketika niat kita baik.

Bahkan ketika energi kita positif.

Bahkan ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga.

Kesulitan tetap bisa datang.

Masalah tetap bisa muncul.

Dan hidup tetap bisa memberi kejutan yang tidak kita minta.

Kenapa?

Aku tidak tahu pasti.

Tapi kalau harus menggunakan bahasa yang lebih ringan, aku suka membayangkannya seperti ini.


Alkisah...

Suatu hari kita mengajukan proposal kepada Semesta.

Proposal tentang kehidupan yang ingin kita jalani.

Proposal tentang mimpi yang ingin kita capai.

Proposal tentang hubungan yang ingin kita bangun.

Proposal tentang pekerjaan yang ingin kita lakukan.

Proposal tentang versi diri yang ingin kita wujudkan.

Dan menurut kita, proposal itu bagus.

Bahkan sangat bagus.

Kita yakin jika proposal itu terwujud, banyak hal baik akan lahir darinya.

Lalu kita menunggu.

Namun ternyata proposal itu tidak langsung disetujui.

Muncullah hambatan.

Muncullah penundaan.

Muncullah tantangan.

Muncullah ujian.

Lalu kita mulai panik.

"Kenapa tidak langsung dikabulkan?"

"Apakah aku salah?"

"Apakah aku tidak layak?"

"Apakah jalanku keliru?"

Padahal bisa jadi bukan itu alasannya.

Bisa jadi Semesta hanya sedang bertanya:

"Seberapa yakin kamu dengan apa yang kamu minta?"

"Seberapa besar kepercayaanmu terhadap jalan yang sedang kamu pilih?"

"Apakah kamu tetap akan berjalan ketika hasilnya belum terlihat?"

"Apakah kamu tetap akan percaya ketika keadaan tidak sesuai harapanmu?"

Karena sesuatu yang besar sering kali membutuhkan fondasi yang besar pula.

Membutuhkan keyakinan yang lebih matang.

Membutuhkan keberanian yang lebih kuat.

Membutuhkan kesabaran yang lebih panjang.

Dan terkadang ujian bukan hadir untuk menghentikan kita.

Melainkan untuk memperkuat alasan mengapa kita memulainya.


Namun...

Kalaupun ternyata apa yang kita perjuangkan tidak terwujud.

Kalaupun ternyata proposal itu tidak pernah mendapatkan persetujuan.

Kalaupun ternyata jalan hidup membawa kita ke arah yang sama sekali berbeda.

Aku juga mulai belajar menerima bahwa itu bukan berarti perjalanan ini gagal.

Karena selama menjalaninya, kita telah belajar.

Kita telah bertumbuh.

Kita telah menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.

Dan bukankah itu juga sebuah keberhasilan?

Kadang kita terlalu fokus pada tujuan.

Sampai lupa menghargai perubahan yang terjadi pada diri kita selama perjalanan.

Padahal mungkin itulah hadiah yang sebenarnya.


Jadi untuk Yeya di masa depan...

Kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini sambil menangis...

Kalau suatu hari nanti kamu kembali merasa lelah...

Kalau suatu hari nanti kamu merasa hidup tidak adil...

Kalau suatu hari nanti kamu merasa sendirian...

Tolong ingat satu hal.

Kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya.

Dan kamu bisa melakukannya lagi.

Mungkin tidak hari ini.

Mungkin tidak besok.

Mungkin tidak minggu depan.

Tapi pelan-pelan.

Satu napas.

Satu langkah.

Satu hari pada satu waktu.

Tidak perlu terburu-buru.

Tidak perlu langsung sempurna.

Tidak perlu langsung kuat.

Cukup terus bergerak.

Cukup terus hidup.

Cukup terus mengingat bahwa cahaya itu masih ada.

Karena cahaya itu tidak pernah benar-benar pergi.

Kamu hanya sedang lupa cara melihatnya.

Dan ketika kamu lupa...

Berhentilah sejenak.

Tarik napas.

Buka kembali tulisan ini.

Lalu mulai lagi dari rasa syukur yang paling sederhana.

Terima kasih Tuhan.

Aku masih di sini.

Aku masih hidup.

Dan itu berarti ceritaku belum selesai.

Dengan penuh kasih,

Untuk diriku sendiri.

Untuk Yeya.

Yang selalu berusaha pulang kepada dirinya sendiri.

Sabtu, 28 Mei 2022

Mati dalam Kehidupan

Mati dalam Kehidupan

Hai, perkenalkan. Namaku Yeya.

Hari ini aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang mengalami syok kultural, syok emosional, dan syok hormonal secara bersamaan. Untuk mendalami peran, izinkan aku bercerita dari sudut pandang orang pertama.

Disclaimer: CERITA INI SEDIH.
Jadi kalau kamu sedang sedih, mungkin jangan baca dulu, guys.


Berkali-kali aku berpikir untuk mati.

Namun aku tidak bisa mati sekarang karena aku masih memiliki tanggung jawab.

Meski begitu, aku ingin mati saja.

Aku malu membawa diriku sendiri.

Aku jijik pada tubuhku.

Aku lelah dengan hidupku.

Dan yang paling menyakitkan, aku sepenuhnya kecewa pada diriku sendiri.

Berbagai pertimbangan selalu membuatku ragu. Sampai suatu hari aku bertanya pada diriku sendiri:

"Apa sih sebenarnya yang kamu cari dari kematian itu?"

Jawabannya sederhana.

Rest in peace.
Istirahat dalam damai.

Lalu aku berpikir lagi.

Memangnya kalau bunuh diri, bisa benar-benar beristirahat dalam damai?

Belum tentu, kan?

Kalau begitu, kenapa mengambil keputusan yang begitu besar berdasarkan keputusasaan sesaat terhadap masa depan yang bahkan belum terjadi?

Bukankah sebenarnya yang kubutuhkan hanya satu hal?

Istirahat.

Tenang.

Lalu muncul sebuah ide yang terasa aneh.

Kalau mati saja aku berani, kenapa aku tidak mencoba mati dalam kehidupan ini?

Maksudku, aku sudah memiliki keberanian untuk meninggalkan semuanya. Aku sudah memiliki keberanian untuk membuang semua beban yang selama ini kupikul. Namun setiap kali aku ingin mengakhiri hidup, selalu ada orang yang berkata bahwa keberadaanku masih dibutuhkan dan kematian bukanlah solusi.

Mereka mungkin benar.

Atau mungkin juga tidak.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, kematian membuatku tidak bisa memilih.

Sedangkan kehidupan masih memberiku pilihan.

Jika selama ini aku terbebani karena terlalu peduli, kenapa tidak mencoba untuk tidak peduli?

Tidak peduli pada penilaian orang lain.

Tidak peduli pada cibiran yang tidak membangun.

Tidak peduli pada komentar yang bahkan tidak bertanggung jawab.

Jika aku memahami sesuatu sebagai hal yang benar, maka aku akan melakukannya.

Jika aku yakin sedang berjalan di jalanku sendiri, maka aku tidak perlu meminta izin kepada semua orang untuk melangkah.

Kematian membuat seseorang tidak lagi bisa memilih untuk peduli.

Namun kehidupan memberiku hak untuk memilih:

Peduli.

Atau tidak peduli.

Yang dibutuhkan hanyalah keberanian, sedikit kenekatan, dan kepercayaan pada diri sendiri.

Tidak perlu takut salah.

Karena setiap proses adalah pembelajaran.

Pada akhirnya hasilnya selalu baik.

Entah itu kebahagiaan.

Atau pengalaman.

Tidak ada yang benar-benar hilang.


Tidurlah saat mengantuk.

Makanlah saat lapar.

Sesuai kebutuhanmu.

Sesuai takaranmu.

Sesuai tubuhmu.

Orang mungkin bilang kamu tidur terlalu lama seperti kerbau.

Tapi jika tubuhmu memang membutuhkan istirahat, maka tidurlah, sayang.

Orang mungkin mengatakan matamu berkantung dan terlihat seperti panda.

Tapi jika kamu merasa baik-baik saja dan memahami kebutuhan tubuhmu sendiri, maka biarkan saja.

Orang akan selalu punya pendapat tentang apa yang harus kamu makan, bagaimana kamu harus hidup, dan seperti apa kamu seharusnya terlihat.

Biarkan saja.

Mereka hanya bicara.

Dan tidak semua ucapan harus kamu bawa pulang ke dalam hati.


Lalu aku mulai memahami sesuatu.

Jika ada orang yang tidak bisa menghargaimu, itu tidak otomatis berarti kamu tidak berharga.

Kadang itu hanya berarti mereka tidak tahu bagaimana cara menghargai orang lain.

Kadang itu berarti mereka tidak menghormati pilihan yang berbeda dari pilihan mereka sendiri.

Dan kadang, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu.

Masalahnya ada pada mereka.

Bukan padamu.

Karena nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh kemampuan orang lain dalam menghargainya.

Sabtu, 21 Mei 2022

Menjadi Ketua Tim Audit Internal: Kisah Anak Piyik yang Overthinking

Hai, selamat datang.

Perkenalkan, aku Yeya.

Hari ini aku ingin bercerita tentang saat aku pertama kali ditunjuk menjadi Ketua Tim Audit Internal.

Perasaanku saat itu?

Kacau.

Aku merasa tidak sanggup.

Aku merasa itu tidak adil.

Aku syok.

Aku sedih.

Pokoknya rasanya berat sekali.

Bahkan terasa mustahil.

Sampai-sampai setelah keluar dari ruangan Kepala Puskesmas, aku oleng dan hampir jatuh karena kakiku mendadak lemas.

Lemah?

Iya, jelas.

Aku memang sedang merasa lemah saat itu.

Di kepalaku, audit adalah pekerjaan orang-orang hebat. Orang-orang yang mumpuni. Orang-orang yang disegani. Orang-orang yang paham betul apa yang mereka kerjakan.

Sedangkan aku?

Aku hanya anak piyik.

Pegawai kontrak.

Baru delapan bulan bekerja di Puskesmas.

Baru sebulan sebelumnya mengikuti pelatihan yang kebetulan membahas Audit Internal.

Apa itu Puskesmas?

Apa itu Audit Internal?

Aku bahkan masih berusaha memahaminya.

Jadi ya, aku overthinking luar biasa.

Wkwkwk.

Lalu apa yang terjadi?

Aku bekerja sambil menangis.

Aku bekerja sambil mengomel dalam hati.

Aku mengerjakan semua hal yang disarankan orang kepadaku.

Mulai dari membuat SK Tim, SK Panduan, RUK, RPK, Rencana Kerja, KAK, SOP, format laporan, format undangan, absensi, notulensi, dokumentasi rapat, materi rapat lintas sektor, sampai membagi tugas dengan teman-teman yang menjadi anggota timku.

Pokoknya apa saja yang diperlukan, aku kerjakan satu per satu.

Walaupun sambil panik.

Walaupun sambil mengeluh.

Walaupun sambil bertanya-tanya kenapa harus aku.

Namun ada satu hal yang sangat kusyukuri.

Aku dipertemukan dengan teman-teman setim yang baik.

Mereka tidak banyak protes.

Mereka mau membantu.

Mereka proaktif.

Dan yang paling penting, mereka membuatku merasa tenang.

Aku sudah cukup pusing memikirkan konsep dan dokumennya. Syukurlah aku tidak perlu pusing memikirkan konflik internal dalam tim.

Teman-teman auditee pun sangat terbuka.

Mereka menerima kami dengan baik.

Bahkan sering membantu memberikan ide-ide baru yang memperkaya proses audit itu sendiri.

Lalu tibalah masa akreditasi.

Bagaimana hasilnya?

Aman.

Kami memiliki panduan.

Kami memiliki bukti pelaksanaan.

Kami memiliki alur kerja.

Memang masih ada beberapa kekurangan dokumen. Namun sebagian besar hanya terkait bentuk dan format, bukan substansi.

Isi dan kebutuhan audit internal sebenarnya sudah tersedia. Hanya saja cara penyajian atau format tabelnya mungkin perlu disesuaikan.

Maklum, saat itu belum ada panduan resmi yang lengkap dari Kementerian Kesehatan.

Lalu bagaimana sekarang?

Sejak tahun 2017, jabatan itu masih setia bertengger di pundakku.

Apakah aku sudah merasa ahli?

Belum.

Jauh dari itu.

Kadang aku masih merasa seperti katak dalam tempurung.

Saat mengikuti kaji banding ke tempat lain, aku sering menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kuketahui.

Masih banyak yang perlu kupelajari.

Masih banyak masukan yang perlu kudengar.

Namun sekarang aku bisa melihat semuanya dengan cara yang berbeda.

Aku bersyukur.

Terima kasih semesta.

Terima kasih, Dok Maria.

Atas kesempatan yang pernah diberikan.

Meskipun di awal aku menangis meraung-raung dalam hati.

Meskipun sampai sekarang aku masih suka mengeluh ketika sedang kesulitan.

Tetapi tugas yang dokter berikan ternyata telah membantu menempa diriku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih percaya pada kemampuanku sendiri.

Kadang hidup memang tidak menunggu kita merasa siap.

Kadang hidup langsung menunjuk dan berkata,

"Kamu. Kerjakan."

Dan ternyata, sering kali kita jauh lebih mampu daripada yang selama ini kita kira.