Aku ingin bertanya.
Pernahkah kamu berada di masa ketika hidup terasa begitu indah?
Semua terasa mudah.
Banyak hal berjalan sesuai harapan.
Orang-orang baik berdatangan.
Rezeki terasa cukup.
Tubuh sehat.
Pikiran tenang.
Dan tanpa sadar, kita mulai menganggap semua itu sebagai sesuatu yang wajar.
Kita bangun pagi dengan ringan.
Menjalani hari dengan penuh semangat.
Lalu menutup hari dengan perasaan syukur karena kehidupan terasa berpihak kepada kita.
Pada masa-masa seperti itu, bersyukur terasa mudah.
Sangat mudah.
Mudah sekali sampai-sampai kita lupa bahwa bersyukur bukanlah kemampuan yang diuji ketika hidup sedang baik-baik saja.
Kemampuan bersyukur justru diuji ketika hidup sedang tidak baik-baik saja.
Karena roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar.
Waktu tidak pernah berhenti berjalan.
Dan hidup memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan kita bahwa tidak ada keadaan yang benar-benar permanen.
Suatu hari, hidup mulai bercerita dengan cara yang berbeda.
Keberuntungan yang dulu terasa dekat mendadak menjauh.
Kemudahan yang dulu terasa biasa mendadak menjadi barang mewah.
Apa yang selama ini berjalan lancar mulai menemui hambatan.
Apa yang selama ini kita yakini mulai dipertanyakan.
Apa yang selama ini kita banggakan mulai runtuh satu per satu.
Dan seperti manusia pada umumnya, kita berusaha melawan.
Kita berusaha memperbaiki keadaan.
Kita mencoba lebih keras.
Lebih cepat.
Lebih banyak.
Lebih kuat.
Dengan harapan roda kehidupan segera berputar kembali ke arah yang kita inginkan.
Namun terkadang hidup tidak segampang itu.
Terkadang hidup memberi kita ujian dalam bentuk kesulitan yang panjang.
Kesulitan yang tidak selesai dalam semalam.
Kesulitan yang tidak bisa dibereskan hanya dengan berpikir positif.
Kesulitan yang membuat kita lelah.
Sangat lelah.
Sampai suatu titik kita kehilangan tenaga untuk terus berjuang.
Sampai suatu titik kita duduk terdiam dan bertanya:
"Aku harus bagaimana lagi?"
Lalu tanpa sadar, kita mulai jatuh.
Awalnya mungkin hanya sedikit.
Kemudian semakin dalam.
Dan semakin dalam lagi.
Sampai akhirnya kita berada di tempat yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.
Tempat yang gelap.
Tempat yang sunyi.
Tempat di mana harapan terasa jauh.
Tempat di mana bersyukur menjadi sesuatu yang nyaris mustahil dilakukan.
Ketika kita berada di kedalaman yang tidak memungkinkan cahaya masuk, sangat sulit mengharapkan mata kita menangkap cahaya.
Jangankan bersyukur.
Berpikir jernih saja sulit.
Jangankan optimis.
Bangun dari tempat tidur saja terasa berat.
Jangankan melihat keindahan hidup.
Bertahan satu hari lagi saja terasa seperti perjuangan besar.
Pada fase ini, banyak orang berkata:
"Bersyukurlah."
Dan aku memahami maksud baik mereka.
Namun sering kali mereka lupa bahwa orang yang sedang berada di dalam lubang tidak sedang membutuhkan nasihat tentang cahaya.
Mereka sedang kesulitan melihat cahaya itu sendiri.
Karena memang gelap.
Dan ketika gelap, kemampuan kita untuk melihat menjadi terbatas.
Itulah sebabnya aku tidak pernah menyalahkan diriku ketika kesulitan bersyukur.
Aku tidak menyalahkan diriku ketika marah.
Aku tidak menyalahkan diriku ketika kecewa.
Aku tidak menyalahkan diriku ketika menangis.
Karena semua itu adalah bagian dari pengalaman menjadi manusia.
Etapi...
Ada satu hal yang kemudian kusadari.
Walaupun mata fisikku tidak mampu menemukan cahaya di luar diriku, bukan berarti cahaya itu tidak ada.
Bagaimana jika selama ini aku mencarinya di tempat yang salah?
Bagaimana jika cahaya yang kucari ternyata tidak berada di luar?
Bagaimana jika cahaya itu justru berada di dalam diriku sendiri?
Aku percaya bahwa setiap manusia adalah ciptaan Tuhan.
Dan sebagai ciptaan-Nya, kita membawa percikan kehidupan dari-Nya.
Percikan itu tidak pernah benar-benar padam.
Meski terkadang tertutup oleh ketakutan.
Tertutup oleh kemarahan.
Tertutup oleh penyesalan.
Tertutup oleh rasa gagal.
Tertutup oleh luka.
Namun tidak pernah padam.
Maka mungkin tugas kita bukan menciptakan cahaya.
Melainkan menyadari bahwa cahaya itu sudah ada.
Gampang?
ENGGAK SEGAMPANG ITU, GENGS!
Kalau segampang itu, aku juga sudah selesai dari dulu.
Masalahnya, manusia itu unik.
Hari ini sadar.
Besok lupa.
Hari ini semangat.
Besok galau.
Hari ini merasa tercerahkan.
Besok overthinking lagi.
Kadang baru lima menit merasa damai, tahu-tahu sudah berdebat lagi sama isi kepala sendiri.
Makanya menurutku, tersadar saja tidak cukup.
Tersadar hanyalah awal.
Karena setelah sadar, kita tetap harus pulih.
Dan proses pemulihan itulah yang sering kali paling berat.
Karena setelah sadar, kita tetap harus pulih.
Dan proses pemulihan itulah yang sering kali paling berat.
Banyak orang membayangkan bahwa kesadaran adalah garis akhir.
Padahal tidak.
Kesadaran hanyalah garis start.
Setelah sadar bahwa kita sedang terjatuh, kita masih harus bangun.
Setelah bangun, kita masih harus berjalan.
Setelah berjalan, kita masih harus belajar agar tidak jatuh ke lubang yang sama.
Dan semua itu membutuhkan energi.
Masalahnya, saat kita baru saja terjatuh, energi itu sering kali belum tersedia.
Tubuh kita kelelahan.
Pikiran kita kusut.
Perasaan kita berantakan.
Dan dunia di sekitar kita belum tentu ikut memahami apa yang sedang kita alami.
Kadang justru ketika kita sedang berusaha bangkit, kita masih harus menghadapi komentar orang lain.
"Kok masih sedih?"
"Kok belum move on?"
"Kok belum berhasil?"
"Kok belum pulih?"
Seolah-olah pemulihan memiliki tenggat waktu.
Seolah-olah luka memiliki jadwal kapan harus sembuh.
Padahal setiap manusia memiliki ritmenya sendiri.
Ada luka yang sembuh dalam hitungan minggu.
Ada yang butuh bertahun-tahun.
Ada yang bahkan meninggalkan bekas seumur hidup.
Dan itu tidak apa-apa.
Karena tujuan pemulihan bukan menjadi seperti sebelum terluka.
Melainkan belajar hidup dengan lebih bijaksana setelah terluka.
Maka ketika aku menyadari diriku sedang jatuh, perlahan aku belajar untuk tidak lagi memusuhi diriku sendiri.
Aku belajar untuk mengasihi diriku.
Aku belajar untuk tidak menuntut diriku segera sempurna.
Aku belajar untuk tidak marah ketika ternyata aku masih sedih.
Masih kecewa.
Masih takut.
Masih khawatir.
Karena ternyata menjadi manusia memang seperti itu.
Kita bukan mesin.
Kita bukan robot.
Kita bukan program komputer yang cukup diperbaiki satu baris kode lalu langsung kembali normal.
Tubuh kita memiliki prosesnya sendiri.
Pikiran kita memiliki prosesnya sendiri.
Hati kita juga memiliki prosesnya sendiri.
Dan semuanya membutuhkan waktu.
Lalu muncul pertanyaan berikutnya.
Kalau begitu, bagaimana cara membantu diri sendiri untuk pulih?
Nah, di sinilah aku menemukan sesuatu yang menarik.
Semakin aku memperhatikan diriku sendiri, semakin aku menyadari bahwa suasana emosi ternyata mempengaruhi banyak hal.
Ketika aku marah, tubuhku terasa berat.
Ketika aku cemas, pikiranku menjadi sempit.
Ketika aku takut, aku sulit melihat peluang.
Ketika aku kecewa, aku kehilangan semangat.
Bukan karena dunia berubah.
Tetapi karena cara aku memandang dunia sedang berubah.
Lalu aku mulai memahami bahwa proses pemulihan bukan hanya soal memperbaiki keadaan di luar diriku.
Tetapi juga memperbaiki keadaan di dalam diriku.
Karena seburuk apa pun keadaan di luar, jika keadaan di dalam masih mampu tenang, aku masih memiliki kesempatan untuk berpikir jernih.
Sebaliknya, sebaik apa pun keadaan di luar, jika keadaan di dalam penuh kekacauan, hidup tetap akan terasa berat.
Maka aku mulai bertanya kepada diriku sendiri:
"Apa yang bisa kulakukan untuk memperbaiki suasana di dalam diriku?"
Dan jawaban yang muncul ternyata sederhana sekali.
BERSYUKUR.
Etapi...
Serius ya.
Bersyukur itu gampang kalau hidup sedang enak.
Bersyukur itu gampang kalau rekening aman.
Bersyukur itu gampang kalau badan sehat.
Bersyukur itu gampang kalau hubungan baik-baik saja.
Bersyukur itu gampang kalau semua sesuai rencana.
Yang susah adalah bersyukur ketika hidup sedang berantakan.
Ketika baru gagal.
Ketika baru ditolak.
Ketika baru kehilangan.
Ketika baru dikecewakan.
Ketika baru jatuh.
Nah itu baru level dewa.
Karena pada saat-saat seperti itu, godaannya luar biasa.
Kita tergoda untuk marah.
Tergoda untuk menyalahkan.
Tergoda untuk menyesal.
Tergoda untuk mencari kambing hitam.
Tergoda untuk menyerah.
Dan kalau sudah begitu, sekadar mengucapkan:
"Terima kasih Tuhan."
Rasanya bisa berat sekali.
Aku tahu.
Karena aku pernah ada di sana.
Bahkan menuliskan sepuluh rasa syukur setiap pagi seperti yang diajarkan dalam beberapa metode pengembangan diri pun rasanya seperti tugas yang mustahil.
Mau bersyukur apa?
Kepalanya saja masih mumet.
Hatinya masih sakit.
Air mata masih dekat.
Dan hidup masih terasa tidak adil.
Lalu suatu hari aku menyadari sesuatu.
Kalau aku tidak mampu menemukan rasa syukur secara alami, mungkin aku boleh meminta bantuan.
Mungkin aku boleh membuat daftar pengingat.
Mungkin aku boleh membuat "contekan".
Mungkin aku boleh membuat "hint".
Sama seperti saat bermain game.
Kalau mentok, kita cari petunjuk.
Kalau bingung, kita minta bantuan.
Lalu aku bertanya pada diriku sendiri:
"Memangnya boleh?"
Dan segera aku tertawa.
Karena pertanyaan yang lebih tepat sebenarnya adalah:
"Memangnya siapa yang bilang tidak boleh?"
Kalau meminta bantuan membuatku lebih cepat pulih, kenapa tidak?
Kalau membuat daftar syukur membantuku mengingat cahaya, kenapa tidak?
Kalau mengulang kalimat-kalimat baik membantuku berdiri kembali, kenapa tidak?
Bukankah semua hal yang membantu kita bertumbuh layak dicoba?
Karena pada akhirnya tidak ada yang benar-benar sia-sia.
Kalau berhasil, kita mendapatkan manfaat.
Kalau belum berhasil, kita mendapatkan pelajaran.
Dan keduanya tetaplah hadiah.
Maka inilah daftar yang kutulis untuk diriku sendiri.
Bukan karena aku selalu mampu merasakan semuanya.
Melainkan karena aku ingin mengingatnya kembali saat aku lupa.
Karena suatu hari nanti, mungkin aku akan jatuh lagi.
Dan ketika hari itu datang, aku ingin meninggalkan jejak kecil yang bisa membantuku menemukan jalan pulang.
Kalau kamu membaca tulisan ini sampai bagian ini, mungkin ada dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, hidupmu sedang baik-baik saja.
Kalau begitu, syukurlah.
Nikmati.
Rasakan.
Hargai setiap kemudahan yang sedang kamu miliki hari ini.
Karena sering kali kita baru menyadari betapa berharganya sesuatu setelah kehilangannya.
Namun ada kemungkinan kedua.
Kemungkinan yang membuat tulisan ini sebenarnya ditulis.
Yaitu ketika suatu hari nanti kamu kembali terjatuh.
Karena sejujurnya, aku tidak bisa menjanjikan bahwa hidup akan selalu baik-baik saja.
Aku tidak bisa menjanjikan bahwa setelah memahami semua ini, kita tidak akan pernah sedih lagi.
Tidak akan pernah kecewa lagi.
Tidak akan pernah marah lagi.
Tidak akan pernah menangis lagi.
Kita tetap manusia.
Dan menjadi manusia berarti tetap memiliki kemungkinan untuk terluka.
Bahkan ketika kita sudah berada di jalan yang menurut kita benar.
Bahkan ketika niat kita baik.
Bahkan ketika energi kita positif.
Bahkan ketika kita sudah berusaha sekuat tenaga.
Kesulitan tetap bisa datang.
Masalah tetap bisa muncul.
Dan hidup tetap bisa memberi kejutan yang tidak kita minta.
Kenapa?
Aku tidak tahu pasti.
Tapi kalau harus menggunakan bahasa yang lebih ringan, aku suka membayangkannya seperti ini.
Alkisah...
Suatu hari kita mengajukan proposal kepada Semesta.
Proposal tentang kehidupan yang ingin kita jalani.
Proposal tentang mimpi yang ingin kita capai.
Proposal tentang hubungan yang ingin kita bangun.
Proposal tentang pekerjaan yang ingin kita lakukan.
Proposal tentang versi diri yang ingin kita wujudkan.
Dan menurut kita, proposal itu bagus.
Bahkan sangat bagus.
Kita yakin jika proposal itu terwujud, banyak hal baik akan lahir darinya.
Lalu kita menunggu.
Namun ternyata proposal itu tidak langsung disetujui.
Muncullah hambatan.
Muncullah penundaan.
Muncullah tantangan.
Muncullah ujian.
Lalu kita mulai panik.
"Kenapa tidak langsung dikabulkan?"
"Apakah aku salah?"
"Apakah aku tidak layak?"
"Apakah jalanku keliru?"
Padahal bisa jadi bukan itu alasannya.
Bisa jadi Semesta hanya sedang bertanya:
"Seberapa yakin kamu dengan apa yang kamu minta?"
"Seberapa besar kepercayaanmu terhadap jalan yang sedang kamu pilih?"
"Apakah kamu tetap akan berjalan ketika hasilnya belum terlihat?"
"Apakah kamu tetap akan percaya ketika keadaan tidak sesuai harapanmu?"
Karena sesuatu yang besar sering kali membutuhkan fondasi yang besar pula.
Membutuhkan keyakinan yang lebih matang.
Membutuhkan keberanian yang lebih kuat.
Membutuhkan kesabaran yang lebih panjang.
Dan terkadang ujian bukan hadir untuk menghentikan kita.
Melainkan untuk memperkuat alasan mengapa kita memulainya.
Namun...
Kalaupun ternyata apa yang kita perjuangkan tidak terwujud.
Kalaupun ternyata proposal itu tidak pernah mendapatkan persetujuan.
Kalaupun ternyata jalan hidup membawa kita ke arah yang sama sekali berbeda.
Aku juga mulai belajar menerima bahwa itu bukan berarti perjalanan ini gagal.
Karena selama menjalaninya, kita telah belajar.
Kita telah bertumbuh.
Kita telah menjadi seseorang yang berbeda dari sebelumnya.
Dan bukankah itu juga sebuah keberhasilan?
Kadang kita terlalu fokus pada tujuan.
Sampai lupa menghargai perubahan yang terjadi pada diri kita selama perjalanan.
Padahal mungkin itulah hadiah yang sebenarnya.
Jadi untuk Yeya di masa depan...
Kalau suatu hari nanti kamu membaca tulisan ini sambil menangis...
Kalau suatu hari nanti kamu kembali merasa lelah...
Kalau suatu hari nanti kamu merasa hidup tidak adil...
Kalau suatu hari nanti kamu merasa sendirian...
Tolong ingat satu hal.
Kamu pernah berhasil bangkit sebelumnya.
Dan kamu bisa melakukannya lagi.
Mungkin tidak hari ini.
Mungkin tidak besok.
Mungkin tidak minggu depan.
Tapi pelan-pelan.
Satu napas.
Satu langkah.
Satu hari pada satu waktu.
Tidak perlu terburu-buru.
Tidak perlu langsung sempurna.
Tidak perlu langsung kuat.
Cukup terus bergerak.
Cukup terus hidup.
Cukup terus mengingat bahwa cahaya itu masih ada.
Karena cahaya itu tidak pernah benar-benar pergi.
Kamu hanya sedang lupa cara melihatnya.
Dan ketika kamu lupa...
Berhentilah sejenak.
Tarik napas.
Buka kembali tulisan ini.
Lalu mulai lagi dari rasa syukur yang paling sederhana.
Terima kasih Tuhan.
Aku masih di sini.
Aku masih hidup.
Dan itu berarti ceritaku belum selesai.
Dengan penuh kasih,
Untuk diriku sendiri.
Untuk Yeya.
Yang selalu berusaha pulang kepada dirinya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar