Hari-hari ini banyak aku membaca dan mendengar opini yang berbunyikan,
"Iya, aku belum dikasi anak karena mungkin aku belum layak menjadi orang tua."
"Layakkanlah aku ya Tuhan untuk menjadi seorang ibu/bapak."
"Mungkin aku memang belum layak jadi ibu."
"Mungkin Tuhan pikir aku belum layak punya anak."
Et cetera.
Gengs!
Jangan berfikir seperti itu!
Energinya tidak enak loh.
Nelangsa bukan ikhlas.
Putus asa bukan melepas.
Kalau mau adu banding sama kisah hidupku, kurang "tidak" layak apa aku dan mantan suamiku menjadi orang tua? Kami berpisah dengan masalah perebutan hak asuh dan realisasi pengasuhan. Logikanya, manusia-manusia semacam kami ini seharusnya dari awal sudah bisa ditebak oleh Semesta dan Tuhan bahwa kami tidak layak. Kami memiliki kecenderungan untuk membuat anak kami tumbuh dikeluarga yang tidak utuh dan kecenderungan-kecenderungan lainnya yang mungkin saja terjadi karena kami divorce without peace. Until these day ya!
Well, apapun yang terjadi di dalam hidup ini, terjadinya bukan karena kita tidak layak.
Yakin deh bukan soal kelayakan.
Kita tidak setidakberharga itu sampai bisa dikatakan tidak layak.
Kita selalu layak untuk apapun.
Keterbatasan manusia ada di ruang dan waktu.
Jadi kalau belum waktunya berarti belum tepat situasinya.
Kalaupun sampai the end of life tidak tercapai berarti bukan jalannya.
Release.
Lepaskan.
Selama belum ketemu tuh KPK dan FPB antara ruang, waktu dan harapan; maka tugas kita adalah hidup dengan sebaik-baiknya, memperbaiki diri dan berlaku baik sepanjang usia kepada semua makhluk dan benda di keberadaan kita ini.
Semua itu bukan agar hanya sekedar mengejar kelayakan, namun lebih kepada menjadi seseorang yang mencapai potensi terbaik di kehidupan kali ini.
Well done ya Gengs.
Kita musti bangga menjadi diri kita apa adanya.
Berkembang menjadi lebih baik versi diri kita.
Bersikap baik dan berbuat baik kepada semua orang tanpa sedikitpun berharap mendapatkan perlakuan yang sama dari siapapun.
Jika kita diperlakukan tidak baik, berarti apa reaksi baik yang bisa kita tampilkan kepada dunia?
Emosi itu wajar wey!
Tapi apakah emosi itu bisa kita olah menjadi potensi motivasi atau malah menjadi potensi kerusakan? Itu bagian dari free will kita.
Semangat menjalani hidup Gengs!
I love you! <3