Senin, 03 November 2025

Kamu Tidak Kurang Layak

Hari-hari ini aku cukup sering membaca dan mendengar pernyataan seperti:

"Mungkin aku belum dikasih anak karena belum layak menjadi orang tua."

"Ya Tuhan, layakkanlah aku untuk menjadi seorang ibu."

"Mungkin aku memang belum layak menjadi ibu."

"Mungkin Tuhan menganggap aku belum layak memiliki anak."

Dan berbagai kalimat serupa lainnya.

Gengs...

Jangan berpikir seperti itu.

Energinya tidak enak, lho.

Nelangsa bukan berarti ikhlas.

Putus asa bukan berarti melepas.

Kalau mau dibandingkan dengan kisah hidupku, kurang "tidak layak" apa aku dan mantan suamiku menjadi orang tua?

Kami berpisah dengan persoalan hak asuh dan realisasi pengasuhan. Secara logika, mungkin ada yang akan berkata bahwa manusia seperti kami seharusnya dari awal sudah bisa diprediksi tidak layak memiliki anak. Kami memiliki kemungkinan membesarkan anak dalam keluarga yang tidak utuh. Kami juga membawa berbagai luka dan konflik yang bahkan sampai hari ini masih menyisakan jejaknya.

Tapi ternyata hidup tidak bekerja sesederhana itu.

Apapun yang terjadi dalam hidup ini, aku tidak percaya itu terjadi karena kita tidak layak.

Sungguh.

Aku yakin bukan soal kelayakan.

Kita tidak serendah itu nilainya sampai harus mendefinisikan diri sebagai manusia yang tidak layak.

Kita selalu layak untuk dicintai.

Kita selalu layak untuk berharap.

Kita selalu layak untuk hidup dengan penuh makna.

Keterbatasan manusia hanya ada pada ruang dan waktu.

Kalau sesuatu belum terjadi, bisa jadi memang belum waktunya.

Kalau sesuatu tidak terwujud, bisa jadi memang bukan jalannya.

Dan itu tidak otomatis membuat kita gagal atau tidak berharga.

Release.

Lepaskan.

Selama ruang, waktu, dan harapan belum menemukan titik temunya, tugas kita hanya satu:

Menjalani hidup sebaik-baiknya.

Memperbaiki diri.

Belajar.

Bertumbuh.

Berlaku baik kepada sesama makhluk yang dipertemukan dengan kita.

Semua itu bukan semata-mata untuk mengejar sebuah "kelayakan".

Melainkan untuk menjadi versi terbaik dari diri kita pada kehidupan ini.

Well done ya, Gengs.

Kita patut bangga menjadi diri kita sendiri.

Bertumbuh menjadi lebih baik dari hari kemarin.

Bersikap baik dan berbuat baik tanpa harus selalu berharap diperlakukan sama oleh orang lain.

Karena kenyataannya, tidak semua orang akan memperlakukan kita dengan baik.

Dan ketika itu terjadi, pertanyaannya bukan:

"Mengapa mereka melakukan itu kepadaku?"

Melainkan:

"Respon terbaik apa yang bisa kutunjukkan kepada dunia?"

Emosi itu wajar.

Marah itu wajar.

Sedih itu wajar.

Kecewa itu juga wajar.

Namun apakah emosi itu akan kita olah menjadi sumber kekuatan dan pertumbuhan, atau justru menjadi sumber kerusakan bagi diri sendiri dan orang lain, itulah bagian dari kebebasan yang kita miliki.

Tetap semangat menjalani hidup, Gengs.

Kita mungkin tidak bisa mengatur semua hasil.

Tapi kita selalu bisa memilih bagaimana cara kita menjalani perjalanan ini.

I love you. ❤️

Tidak ada komentar:

Posting Komentar