Ternyata kunci hidup yang sederhana adalah bergerak. Move.
Untuk setiap hal yang sudah dikerjakan, sempurna ataupun tidak, move.
Untuk setiap perasaan yang tidak terselesaikan, tetapi momennya sudah lewat, move.
Biarkan hati merasakan setiap rasa yang datang sampai emosi itu mereda dan berganti. Setelah itu, move.
Tidak perlu memanggil-manggil kembali rasa yang sudah selesai. Tidak perlu mengulang-ulang luka yang sudah lewat.
Semua yang terjadi memang sudah terjadi sebagaimana mestinya terjadi. Mau dipikirkan berulang kali, mau diutak-atik seperti apa pun, kejadian itu tidak bisa diubah. Ia sudah lewat.
Jika ada yang ingin diperbaiki, maka tempat memperbaikinya hanya ada di saat ini. Present moment.
Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki hari ini. Dan yang paling berada dalam kendali kita adalah diri kita sendiri.
Cara merespons.
Cara bereaksi.
Cara berpikir.
Cara mengelola rasa.
Kejadian mungkin tidak bisa kita ubah, tetapi energi yang kita hasilkan dari cara kita merespons kejadian itulah yang akan memengaruhi langkah berikutnya.
Aksi, reaksi, dan emosi akan melahirkan energi. Dari energi-energi itulah masa depan perlahan terbentuk.
Karena itu, ketika ada sesuatu yang membuat hati tidak nyaman, sadari bahwa kita tidak bisa mengubah kejadian yang telah terjadi, apalagi mengubah orang lain. Namun kita masih bisa mengubah cara kita merasakan dan memaknainya.
Rasa takut, cemas, khawatir, kecewa, marah, dan berbagai rasa berat lainnya tidak akan membawa kita ke mana-mana selain ke tempat di mana perasaan-perasaan itu tumbuh semakin besar. Bahkan sering kali menarik pengalaman serupa untuk terus berulang dalam hidup kita.
Maka saat rasa tidak nyaman itu muncul, sadari bahwa yang bisa kita ubah adalah diri kita sendiri.
Ikhlaskan apa yang telah terjadi.
Serahkan kembali segala beban rasa kepada-Nya.
Mohon ampun karena tanpa sadar kita telah membiarkan diri tenggelam dalam penderitaan yang kita pelihara sendiri.
Lalu mintalah izin untuk melepaskan semua derita itu.
Pilih untuk kembali merasakan damai.
Damai karena menerima.
Damai karena memahami bahwa tidak semua hal harus sesuai dengan keinginan atau pikiran kita.
Karena pada akhirnya, yang sudah terjadi tetaplah sudah
terjadi.
Lalu bagaimana lagi?
Move.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar