Sepertinya aku pernah menikmati hidupku.
Jauh sebelum aku menyadari bahwa orang-orang di luar diriku mengharapkan sesuatu yang lebih dariku.
Jauh sebelum aku mengenal ketakutan akan pengabaian.
Jauh sebelum aku takut mengecewakan orang lain.
Jauh sebelum aku percaya bahwa untuk menjadi orang baik dan membahagiakan semua orang, aku harus selalu mengikuti apa yang mereka mau.
Sepertinya sejak aku mulai terlalu memikirkan penilaian orang lain, sejak saat itu pula aku mulai kehilangan makna tentang menikmati kehidupan yang sesungguhnya.
Lalu...
BOOOM!
Setelah bertahun-tahun menyiksa diri.
Menderita karena perbuatanku sendiri, tetapi selalu menyalahkan orang lain.
Tersiksa karena hati yang terluka, tetapi tidak juga memahami kesalahan diri.
Banyak pertanyaan mulai bermunculan.
"Apa sebenarnya tujuanku hidup di dunia ini?"
"Kenapa rasanya aku tidak pernah bisa membuat orang lain puas hanya dengan kehadiranku saja?"
"Kenapa aku harus menjadi yang terbaik?"
"Kenapa aku harus menjadi teladan?"
"Kenapa aku harus menjadi superior?"
"Kenapa aku harus menjadi yang paling bisa?"
"Kenapa semakin keras aku berusaha membahagiakan orang lain, justru semakin mengecewakan pula hasilnya?"
"Kenapa semakin besar usahaku, semakin tidak terlihat pula pengorbananku?"
"Kenapa aku semakin merasa kesepian?"
"Kenapa aku semakin merasa tidak penting?"
"Kenapa aku semakin merasa tidak berharga?"
Padahal kalau dipikir-pikir, aku sudah berusaha semampuku.
All out.
Sepenuh hati.
Semaksimal mungkin.
Namun tetap saja rasanya tidak pernah cukup.
Lalu muncul pertanyaan yang lebih gelap.
"Kalau kehadiranku setidak berguna ini, kenapa Tuhan masih memberiku umur?"
"Gimana sebenarnya cara hidup yang benar?"
Sampai akhirnya pikiranku kelelahan.
Benakku kehabisan cara untuk memanipulasi jawaban.
Sampai akhirnya kehidupan memberikan tekanan yang begitu besar sehingga semua alasan dan pembelaan diri runtuh satu per satu.
Dan di tengah kelelahan itu, untuk pertama kalinya nurani mulai berbicara lebih keras daripada ketakutan.
Aku mulai bertanya lagi.
"Kalau memang belum waktuku mati, lalu bagaimana seharusnya aku hidup?"
"Aku lelah hidup hanya untuk bertanya dan menangis setiap hari."
"Apa sebenarnya tujuan hidup ini?"
Lalu aku mencoba mencari jawabannya.
Awalnya aku mengira tujuan hidup adalah pencapaian.
Namun pencapaian selalu berubah.
Hari ini ingin ini.
Besok ingin itu.
Hari ini merasa cukup.
Besok merasa kurang lagi.
Tidak ada habisnya.
Kalau tujuan hidup didasarkan pada keinginan, maka tujuan hidup akan terus berganti sampai akhir hayat.
Dan pada titik itulah aku sampai pada sebuah kesimpulan yang sangat sederhana.
Tujuan hidup ini mungkin sesederhana:
Menikmati kehidupan.
Maksudnya bagaimana?
Menikmati berarti merasakan hidup seutuhnya.
Saat bahagia, ya berbahagialah.
Tertawa sampai keluar kentut pun tidak apa-apa.
Tersenyum tipis seperti garis pulpen 0,5 mm juga tidak masalah.
Terkikik sendiri seperti kuntilanak pun sah-sah saja.
Rasakan.
Sadari.
Nikmati.
"Oh... begini rasanya bahagia."
Lalu izinkan rasa itu hadir dan berlalu sesuai waktunya.
Begitu juga saat sedih.
Menangislah jika ingin menangis.
Berduka jika memang sedang berduka.
Galau jika memang sedang galau.
Rasakan.
Sadari.
Pahami.
Lalu izinkan semua emosi itu melewati dirimu.
Tanpa dipancing-pancing agar tetap tinggal.
Tanpa dipelihara agar terus hidup.
Karena terkadang kita memang suka begitu.
Sedih sekali.
Lalu diputar ulang lagi dalam kepala.
Seperti menonton drama Korea favorit.
Adegan yang sama.
Luka yang sama.
Air mata yang sama.
Berulang-ulang.
Padahal momennya sudah lewat.
Lucunya lagi, bahkan kenangan bahagia pun sering kita gunakan untuk menyiksa diri.
"Ya ampun, dulu aku sebahagia itu."
"Kenapa sekarang hidupku jadi seperti ini?"
Wkwkwkwk.
Padahal kalau kita benar-benar menikmati kehidupan yang sedang berlangsung saat ini, kita tidak akan terlalu sibuk tinggal di masa lalu.
Kita akan hadir di sini.
Di saat ini.
Di momen ini.
Karena menikmati hidup bukan berarti selalu bahagia.
Menikmati hidup berarti hadir sepenuhnya dalam apa yang sedang terjadi.
Menikmati kesedihan yang ada.
Memberikan ruang untuk berduka.
Menghormati perasaan yang muncul.
Karena sekecil apa pun masalahnya, jika emosi kita sampai terluka, berarti ada sesuatu yang penting bagi diri kita yang sedang tersentuh.
Mungkin ada trauma yang belum kita sadari.
Mungkin tubuh dan pikiran kita sedang lelah.
Mungkin kita sedang tidak stabil secara emosional.
Dan itu tidak apa-apa.
Hargai dirimu yang sedang bersedih.
Kasihi dirimu yang sedang rapuh.
Izinkan ia menangis.
Izinkan ia berbicara.
Izinkan ia mengekspresikan dirinya.
Tidak peduli apa kata orang lain.
Tidak peduli bagaimana penilaian mereka.
Karena yang paling penting adalah kamu menerima keberadaanmu sendiri.
Seutuhnya.
Tanpa menghakimi.
Tanpa memberi label.
Tanpa mengabaikan.
Menikmati kesedihan bukan berarti tenggelam di dalamnya selamanya.
Menikmati kesedihan berarti memahami bagaimana rasanya.
"Oh, begini rasanya kehilangan."
"Oh, begini rasanya kecewa."
"Oh, begini rasanya ketika sesuatu yang kuinginkan tidak tercapai."
Lalu setelah itu?
Kita bertanya lagi.
"Apa yang bisa kulakukan sekarang?"
Apakah meratap akan mengubah keadaan?
Apakah menyesal akan menciptakan keajaiban?
Atau justru aku perlu bangkit dan mencoba lagi?
Belajar lagi?
Menjalani pengalaman baru lagi?
Karena apa yang terjadi saat ini tidak akan pernah terulang dengan cara yang sama.
Kalaupun perasaannya mirip.
Kalaupun emosinya serupa.
Detail kejadiannya pasti berbeda.
Orangnya berbeda.
Waktunya berbeda.
Situasinya berbeda.
Karena satu-satunya hal yang benar-benar tetap di dunia ini adalah perubahan.
Jadi...
Mari menikmati kehidupan.
Sudah terlalu lama aku menjalani hidup hanya untuk menyesal.
Sudah terlalu lama aku sibuk mengecewakan diriku sendiri.
Sudah terlalu lama aku hidup di bawah bayang-bayang penilaian orang lain.
Sekarang waktunya beranjak.
Berjalan.
Membuka jendela.
Membiarkan cahaya masuk kembali.
Karena awan gelap ini sudah cukup lama tinggal.
Dan mungkin...
Sudah waktunya ia menyingkir.
