Tentang Cincin yang Tidak Pas
Aku bermimpi.
Di dalam mimpi itu, ibuku mengajak seorang laki-laki datang ke rumah untuk berkenalan denganku. Anehnya, aku mengenal sosok itu. Di dunia nyata, ia adalah kakak kelasku, teman ibuku, dan sudah menikah. Karena itu aku tahu, mimpi ini mungkin bukan tentang dirinya, melainkan tentang sesuatu yang sedang bergerak di dalam diriku sendiri.
Ia tidak banyak bicara.
Ia hanya menarik tangan kiriku, lalu mencoba memasangkan cincin berwarna merah muda ke jari-jariku.
Aku tertawa.
Tidak ada satu pun yang pas.
Semua cincin itu kekecilan.
Alih-alih memaksakan, ia kemudian mengukur jariku. Seolah berkata tanpa kata bahwa tidak semua hal harus dipaksakan untuk cocok. Kadang, sebelum memberikan sesuatu, seseorang perlu memahami ukurannya terlebih dahulu.
Setelah itu, ia mulai memotong kuku jari tengahku.
Aku sempat takut.
Aku bukan orang yang terlalu teliti dalam memotong kuku, apalagi sampai ke sudut-sudut kecilnya. Aku khawatir kukuku akan dipotong terlalu pendek, akan terasa sakit, atau bahkan berdarah.
Namun aku tidak menarik tanganku.
Aku membiarkannya.
Bukan karena pasrah.
Aku hanya penasaran.
Dan ternyata, setelah dipotong, tidak ada rasa sakit.
Tidak merah.
Tidak perih.
Aku justru berpikir,
"Oh, ternyata bisa serapi ini tanpa menyakitkan."
Lalu mimpinya berubah.
Ia sudah pulang.
Aku berpikir bahwa mungkin suatu hari ia akan mencari tahu tentang diriku, melihat media sosialku, membaca jejak-jejak masa laluku, mengetahui cerita yang kusimpan selama bertahun-tahun.
Dan anehnya, aku tidak panik.
Aku hanya berpikir,
"Kalau memang begitu, ya sudah."
"Terserah dia mau lanjut mengenal atau tidak."
Setelah terbangun, aku baru menyadari bahwa sepanjang mimpi itu aku tidak pernah merasa sedang bermimpi. Semuanya terasa nyata. Rumahnya nyata. Percakapannya nyata. Perasaannya nyata.
Aku lalu bertanya-tanya, apa arti semua ini?
Bukan tentang pertanda.
Bukan tentang jodoh.
Bukan tentang cincin.
Mungkin ini tentang perubahan yang perlahan terjadi di dalam diriku.
Dulu aku mungkin akan sibuk memikirkan bagaimana orang lain memandang masa laluku.
Apakah mereka akan memahami?
Apakah mereka akan menghakimi?
Apakah aku harus menjelaskan semuanya agar bisa diterima?
Namun di dalam mimpi itu, ada versi diriku yang berbeda.
Versi yang tetap merasa takut, tetapi tidak lagi langsung menarik diri.
Versi yang bersedia memberi kesempatan.
Versi yang memahami bahwa tidak semua kedekatan akan melukai.
Bahwa ada kemungkinan seseorang hadir dengan hati-hati.
Mengukur sebelum memberi.
Memahami sebelum menilai.
Dan bahkan ketika mencoba merapikan sesuatu yang sensitif, ia dapat melakukannya tanpa menyakiti.
Mungkin itulah bagian terpenting dari mimpi ini.
Bukan cincin yang tidak pas.
Bukan kuku yang dipotong.
Tetapi kesadaran sederhana bahwa aku mulai percaya:
Tidak semua orang yang datang akan memaksa.
Tidak semua orang yang mengenal akan pergi.
Dan kalaupun suatu hari seseorang mengetahui seluruh ceritaku lalu memilih tidak melanjutkan langkahnya, mungkin aku akan tetap baik-baik saja.
Karena untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa aku tidak lagi harus menjadi seseorang yang berbeda agar layak diterima.
Aku cukup menjadi diriku sendiri.
Dengan segala yang pernah terjadi.
Dengan segala yang masih sedang kupelajari.
Dan jika suatu hari ada seseorang yang datang, semoga ia bukan orang yang memaksakan cincin yang kekecilan.
Melainkan seseorang yang bersedia mengukur terlebih dahulu, memahami terlebih dahulu, dan mengingatkan bahwa sesuatu dapat dirapikan dengan lembut, tanpa harus meninggalkan luka.
Pesan yang muncul dari mimpi itu :
"Ternyata bisa serapi ini tanpa menyakitkan."
Rasanya seperti sebuah metafora tentang hubungan, tentang kepercayaan, dan tentang proses berdamai dengan diri sendiri. 🌷
