Kamis, 02 Juli 2026

Ketika Bertahan Hidup Sudah Tidak Lagi Cukup

 

Ada masa dalam hidup ketika tujuan kita bukan berkembang, melainkan sekadar bertahan.

Tahun 2022 hingga 2024 adalah masa seperti itu bagiku.

Di satu sisi, aku adalah seorang dokter gigi di Puskesmas. Di sisi lain, aku memegang berbagai peran tambahan: pengelola media sosial, pengelola JKN, koordinator mutu, anggota manajemen risiko, pengelola survei kepuasan masyarakat, hingga terlibat dalam Ombudsman dan persiapan akreditasi.

Di saat yang sama, kehidupan pribadiku sedang berada pada titik yang paling berat. Aku kehilangan kedekatan dengan anakku, menjalani proses perceraian yang panjang, dan berusaha menjaga kewarasan di tengah perubahan besar yang terjadi dalam hidupku.

Jika mengingat masa itu, rasanya masih bisa berkata, "Aku masih waras," saja sudah merupakan pencapaian.

Mungkin karena itulah aku tidak banyak mempermasalahkan pembagian pekerjaan. Aku memilih mengerjakan apa yang bisa kukerjakan. Aku tidak ingin menambah konflik, tidak ingin memperpanjang keributan, dan tidak ingin menghabiskan sisa energiku untuk memperjuangkan sesuatu yang saat itu terasa terlalu berat untuk diperjuangkan.

Aku hanya bekerja semampuku.

Namun ternyata, bertahan hidup dan hidup dengan baik adalah dua hal yang berbeda.

Sekarang, ketika pikiranku mulai lebih tenang, ketika aku mulai bisa kembali berkonsentrasi, aku menyadari bahwa ada banyak hal yang ingin kutata ulang.

Aku ingin memahami sistem yang dulu tidak sempat kupahami.

Aku ingin membangun cara kerja yang lebih sehat.

Aku ingin belajar membedakan antara membantu dan membiarkan.

Karena selama ini aku sering memilih diam.

Jika ada ketidakseimbangan dalam pembagian pekerjaan, aku diam.

Jika ada hal yang menurutku tidak adil, aku diam.

Jika ada orang yang memilih menghindar, aku tetap bekerja.

Bukan karena aku tidak tahu.

Tetapi karena saat itu aku memang tidak punya kapasitas emosional untuk memperjuangkannya.

Kini aku mulai memahami bahwa membangun batas tidak sama dengan menciptakan konflik.

Mengurangi beban bukan berarti malas.

Membagi tanggung jawab bukan berarti tidak peduli.

Aku mulai belajar menerima bahwa kapasitas manusia terbatas.

Aku tidak lagi hanya seorang dokter gigi.

Aku juga adalah seorang pejabat penatausahaan keuangan, koordinator mutu, pengelola JKN, anggota manajemen risiko, bagian dari tim survei kepuasan masyarakat, dan beberapa fungsi lainnya.

Maka wajar jika porsi pelayananku berubah.

Wajar jika aku mulai mengatur jadwal.

Wajar jika aku ingin memiliki ruang untuk berpikir, menyusun sistem, dan mempersiapkan masa depan Puskesmasku.

Dan jika suatu hari kontribusi pelayananku menurun dari 55% menjadi 40%, mungkin itu bukan berarti aku bekerja lebih sedikit.

Mungkin aku hanya sedang bekerja pada level yang berbeda.

Aku juga belajar menerima bahwa ada hal-hal yang memang berada di luar kuasaku.

Pasien yang datang banyak atau sedikit.

Orang yang memilih bekerja maksimal atau tidak.

Orang yang salah paham.

Orang yang percaya pada cerita yang tidak pernah kita tulis.

Semua itu adalah variabel bebas.

Yang masih bisa kukendalikan hanyalah diriku sendiri.

Aku bisa membuat rencana.

Aku bisa bekerja dengan jujur.

Aku bisa menjaga integritasku.

Dan aku bisa tetap melangkah.

Karena pada akhirnya aku menyadari satu hal.

Tidak semua orang akan memahami perjalanan kita.

Tidak semua orang akan melihat kerja keras yang terjadi di balik layar.

Tetapi selama kita tahu bahwa kita sudah melakukan bagian kita dengan sebaik mungkin, mungkin itu sudah cukup.

Aku akan tetap berjalan dengan dagu terangkat.

Karena kalau daguku terus menunduk sampai menyentuh tanah, aku tidak akan bisa berjalan.

Dan aku masih punya perjalanan yang ingin kutempuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar