Sabtu, 28 Mei 2022

Mati dalam Kehidupan

Mati dalam Kehidupan

Hai, perkenalkan. Namaku Yeya.

Hari ini aku ingin bercerita tentang seorang wanita yang mengalami syok kultural, syok emosional, dan syok hormonal secara bersamaan. Untuk mendalami peran, izinkan aku bercerita dari sudut pandang orang pertama.

Disclaimer: CERITA INI SEDIH.
Jadi kalau kamu sedang sedih, mungkin jangan baca dulu, guys.


Berkali-kali aku berpikir untuk mati.

Namun aku tidak bisa mati sekarang karena aku masih memiliki tanggung jawab.

Meski begitu, aku ingin mati saja.

Aku malu membawa diriku sendiri.

Aku jijik pada tubuhku.

Aku lelah dengan hidupku.

Dan yang paling menyakitkan, aku sepenuhnya kecewa pada diriku sendiri.

Berbagai pertimbangan selalu membuatku ragu. Sampai suatu hari aku bertanya pada diriku sendiri:

"Apa sih sebenarnya yang kamu cari dari kematian itu?"

Jawabannya sederhana.

Rest in peace.
Istirahat dalam damai.

Lalu aku berpikir lagi.

Memangnya kalau bunuh diri, bisa benar-benar beristirahat dalam damai?

Belum tentu, kan?

Kalau begitu, kenapa mengambil keputusan yang begitu besar berdasarkan keputusasaan sesaat terhadap masa depan yang bahkan belum terjadi?

Bukankah sebenarnya yang kubutuhkan hanya satu hal?

Istirahat.

Tenang.

Lalu muncul sebuah ide yang terasa aneh.

Kalau mati saja aku berani, kenapa aku tidak mencoba mati dalam kehidupan ini?

Maksudku, aku sudah memiliki keberanian untuk meninggalkan semuanya. Aku sudah memiliki keberanian untuk membuang semua beban yang selama ini kupikul. Namun setiap kali aku ingin mengakhiri hidup, selalu ada orang yang berkata bahwa keberadaanku masih dibutuhkan dan kematian bukanlah solusi.

Mereka mungkin benar.

Atau mungkin juga tidak.

Aku tidak tahu.

Yang aku tahu, kematian membuatku tidak bisa memilih.

Sedangkan kehidupan masih memberiku pilihan.

Jika selama ini aku terbebani karena terlalu peduli, kenapa tidak mencoba untuk tidak peduli?

Tidak peduli pada penilaian orang lain.

Tidak peduli pada cibiran yang tidak membangun.

Tidak peduli pada komentar yang bahkan tidak bertanggung jawab.

Jika aku memahami sesuatu sebagai hal yang benar, maka aku akan melakukannya.

Jika aku yakin sedang berjalan di jalanku sendiri, maka aku tidak perlu meminta izin kepada semua orang untuk melangkah.

Kematian membuat seseorang tidak lagi bisa memilih untuk peduli.

Namun kehidupan memberiku hak untuk memilih:

Peduli.

Atau tidak peduli.

Yang dibutuhkan hanyalah keberanian, sedikit kenekatan, dan kepercayaan pada diri sendiri.

Tidak perlu takut salah.

Karena setiap proses adalah pembelajaran.

Pada akhirnya hasilnya selalu baik.

Entah itu kebahagiaan.

Atau pengalaman.

Tidak ada yang benar-benar hilang.


Tidurlah saat mengantuk.

Makanlah saat lapar.

Sesuai kebutuhanmu.

Sesuai takaranmu.

Sesuai tubuhmu.

Orang mungkin bilang kamu tidur terlalu lama seperti kerbau.

Tapi jika tubuhmu memang membutuhkan istirahat, maka tidurlah, sayang.

Orang mungkin mengatakan matamu berkantung dan terlihat seperti panda.

Tapi jika kamu merasa baik-baik saja dan memahami kebutuhan tubuhmu sendiri, maka biarkan saja.

Orang akan selalu punya pendapat tentang apa yang harus kamu makan, bagaimana kamu harus hidup, dan seperti apa kamu seharusnya terlihat.

Biarkan saja.

Mereka hanya bicara.

Dan tidak semua ucapan harus kamu bawa pulang ke dalam hati.


Lalu aku mulai memahami sesuatu.

Jika ada orang yang tidak bisa menghargaimu, itu tidak otomatis berarti kamu tidak berharga.

Kadang itu hanya berarti mereka tidak tahu bagaimana cara menghargai orang lain.

Kadang itu berarti mereka tidak menghormati pilihan yang berbeda dari pilihan mereka sendiri.

Dan kadang, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirimu.

Masalahnya ada pada mereka.

Bukan padamu.

Karena nilai seorang manusia tidak ditentukan oleh kemampuan orang lain dalam menghargainya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar