Sabtu, 21 Mei 2022

Menjadi Ketua Tim Audit Internal: Kisah Anak Piyik yang Overthinking

Hai, selamat datang.

Perkenalkan, aku Yeya.

Hari ini aku ingin bercerita tentang saat aku pertama kali ditunjuk menjadi Ketua Tim Audit Internal.

Perasaanku saat itu?

Kacau.

Aku merasa tidak sanggup.

Aku merasa itu tidak adil.

Aku syok.

Aku sedih.

Pokoknya rasanya berat sekali.

Bahkan terasa mustahil.

Sampai-sampai setelah keluar dari ruangan Kepala Puskesmas, aku oleng dan hampir jatuh karena kakiku mendadak lemas.

Lemah?

Iya, jelas.

Aku memang sedang merasa lemah saat itu.

Di kepalaku, audit adalah pekerjaan orang-orang hebat. Orang-orang yang mumpuni. Orang-orang yang disegani. Orang-orang yang paham betul apa yang mereka kerjakan.

Sedangkan aku?

Aku hanya anak piyik.

Pegawai kontrak.

Baru delapan bulan bekerja di Puskesmas.

Baru sebulan sebelumnya mengikuti pelatihan yang kebetulan membahas Audit Internal.

Apa itu Puskesmas?

Apa itu Audit Internal?

Aku bahkan masih berusaha memahaminya.

Jadi ya, aku overthinking luar biasa.

Wkwkwk.

Lalu apa yang terjadi?

Aku bekerja sambil menangis.

Aku bekerja sambil mengomel dalam hati.

Aku mengerjakan semua hal yang disarankan orang kepadaku.

Mulai dari membuat SK Tim, SK Panduan, RUK, RPK, Rencana Kerja, KAK, SOP, format laporan, format undangan, absensi, notulensi, dokumentasi rapat, materi rapat lintas sektor, sampai membagi tugas dengan teman-teman yang menjadi anggota timku.

Pokoknya apa saja yang diperlukan, aku kerjakan satu per satu.

Walaupun sambil panik.

Walaupun sambil mengeluh.

Walaupun sambil bertanya-tanya kenapa harus aku.

Namun ada satu hal yang sangat kusyukuri.

Aku dipertemukan dengan teman-teman setim yang baik.

Mereka tidak banyak protes.

Mereka mau membantu.

Mereka proaktif.

Dan yang paling penting, mereka membuatku merasa tenang.

Aku sudah cukup pusing memikirkan konsep dan dokumennya. Syukurlah aku tidak perlu pusing memikirkan konflik internal dalam tim.

Teman-teman auditee pun sangat terbuka.

Mereka menerima kami dengan baik.

Bahkan sering membantu memberikan ide-ide baru yang memperkaya proses audit itu sendiri.

Lalu tibalah masa akreditasi.

Bagaimana hasilnya?

Aman.

Kami memiliki panduan.

Kami memiliki bukti pelaksanaan.

Kami memiliki alur kerja.

Memang masih ada beberapa kekurangan dokumen. Namun sebagian besar hanya terkait bentuk dan format, bukan substansi.

Isi dan kebutuhan audit internal sebenarnya sudah tersedia. Hanya saja cara penyajian atau format tabelnya mungkin perlu disesuaikan.

Maklum, saat itu belum ada panduan resmi yang lengkap dari Kementerian Kesehatan.

Lalu bagaimana sekarang?

Sejak tahun 2017, jabatan itu masih setia bertengger di pundakku.

Apakah aku sudah merasa ahli?

Belum.

Jauh dari itu.

Kadang aku masih merasa seperti katak dalam tempurung.

Saat mengikuti kaji banding ke tempat lain, aku sering menyadari bahwa masih banyak hal yang belum kuketahui.

Masih banyak yang perlu kupelajari.

Masih banyak masukan yang perlu kudengar.

Namun sekarang aku bisa melihat semuanya dengan cara yang berbeda.

Aku bersyukur.

Terima kasih semesta.

Terima kasih, Dok Maria.

Atas kesempatan yang pernah diberikan.

Meskipun di awal aku menangis meraung-raung dalam hati.

Meskipun sampai sekarang aku masih suka mengeluh ketika sedang kesulitan.

Tetapi tugas yang dokter berikan ternyata telah membantu menempa diriku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih berani, dan lebih percaya pada kemampuanku sendiri.

Kadang hidup memang tidak menunggu kita merasa siap.

Kadang hidup langsung menunjuk dan berkata,

"Kamu. Kerjakan."

Dan ternyata, sering kali kita jauh lebih mampu daripada yang selama ini kita kira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar